Saturday, July 31, 2010

World Cup 2010 Serial (12)

Serial World Cup 2010 (12)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Brazil vs Korea Utara
Ujian Bagi Pragmatisme Dunga
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 15 Juni 2010

Sebenarnya Brazil bukanlah tim yang paling hebat di planet bumi saat ini. Juga di masa lalu ketika anak-anak samba itu merangsek memenangkan banyak pertandingan. Kaka, Luis Fabiano dan Robinho tidak lebih hebat dari Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Wesley Snijder, Xavi, Fernando Torres atau Wayne Rooney. Secara permainan Brazil pun tidak lebih hebat dari Italia, Spanyol, Jerman, Inggeris atau Belanda. Artinya Brazil bukanlah tim superior, samba masih bisa dikalahkan. Diego Maradona, musuh “lawas” Brazil menaruh respek pada Brazil tetapi ngidam pertemuan dengan Brazil di 2010, revanche kekalahan Argentina di zone Conmebol, dan mengalahkannya. “Sangat indah dan nikmat jika tim Anda bisa menang atas Brazil.” Katanya.
Ketika tahun 1994 Carlos Alberto Parreira yang didampingi “sang guru” Mario Zagallo sebagai asistennya, mulai melupakan jogo bonito, orang Brazil marah. Seperti juga pengalaman 4 tahun sebelumnya ketika samba ditukangi Sebastiao Lazaroni. Di stadion Delle Alpi, stadion kebanggaan Juventus, Brazil yang menguasai permainan akhirnya tumbang oleh Argentina yang menerapkan taktik defensif. Diego Maradona mencak-mencak saking senangnya, sementara Dunga tertunduk lesu. Rakyat Brazil mencaci Lazaroni dan pemain pilar Dunga. “Itu akibatnya kalau tidak main jogo bonito!” Teriak pers waktu itu (1990).
Tetapi Parreira dan Zagallo menjawab ketus dengan gelar juara 1994, setelah Brazil melalui hampir seperempat abad tanpa gelar dunia, terakhir di Mexico’70. Publik yang mengecamnya, ganti memuji selangit. Siapa pemain pilarnya, kaptennya? Dunga, kaptennya. Dunga “biang kerok” yang melupakan jogo bonito. Tahun 1990 dia gagal. Tahun 1994 dia menang, keduanya tanpa jogo bonito!
Permainan Brazil selalu dikaitkan dengan jogo bonito, sepakbola indah. Inspirasi Brazil dengan pantainya yang indah, wanita sexy berbikini mondar mandir di pantai, ratusan gadis cantik di festival Rio yang memesona, iklim tropisnya yang memancing turis berjemur matahari, semua itu manisfestasi keindahan. Main sepakbola juga harus seindah itu, jogo bonito.Cantik dan indah bagaikan “canarinhos” (si kecil burung kenari) yang cantik dan indah, julukan bagi tim samba selain “a seleccao” (the selection) dan “verde amarela” kostum yellow and green yang ngepas (agak ketat) di badan dan tampak sexy.
Tahun 2002 Luis Felippe Scolari melontarkan komentar yang memancing reaksi marah publik. “Lupakan jogo bonito, main untuk menang, itu lebih penting, kalau perlu main keras dan dapat kartu kuning tetapi memenangkan pertandingan.”
Rakyat Brazil marah. Luis Scolari bergeming. Jalan terus! Hasilnya apa? Gelar juara ke-lima, penta campeon! Ketika CBF (Federasi Brazil) di bulan Agustus 2006 menunjuk Carlos Caetano Bledom Verri alias Dunga sebagai pelatih “seleccao” kritik pun menimpa dirinya. Jogo bonito kembali dipersoalkan. Dunga memberi hasil, Copa America 2007 dan Condeferations Cup 2009, memuncaki kualifikasi zone Conmebol, keadaan pun berubah. Apalagi setelah para pemain mendukung penuh Dunga.
Brazil kini lebih pragmatis. Datang ke 2010 dengan kekuatan penuh pilihan Dunga. Dua talenta muda, Pato dan Neymar serta dua veteran 2006 Ronaldinho dan Adriano, tidak dipanggil. Dia ingin pemain yang memiliki mental kompetisi yang prima. Piala dunia tak punya tempat untuk sentimentil. Kemarin dia memastikan kiper utama Julio Cesar sudah recovery dan fit untuk main di laga perdana lawan Korea Utara.
Skema main 4-2-3-1 dengan Lluis Fabiano di depan sendirian, di belakangnya trio Robinho, Kaka dan Ramires. Gelandang bertahan mungkin Gilberto Silva veteran 2002 dan Elano, serta empat belakang Maicon, Lucio, Juan dan Alves. Pola ini memungkinkan trio Kaka, Robinho dan Ramires bergerak bebas. Adanya dua defensive midfield tampaknya untuk menambal lubang yang ditinggalkan dua wing-back saat naik menyerang. Pemain pilar yang sudah pasti masuk line up starter, Cesar, Maicon, Lucio, Kaka, Robinho dan Luis Fabiano. Nama lain masih bisa berubah tergantung strategi Dunga.
Penampilan skuad Dunga akan dilihat malam nanti menghadapi Korea Utara. Kekuatan Asia Timur ini cukup misterius. Sebaiknya Brazil wspada dan tidak meremehkan. Tim asuhan Kim Jong-Hun, menekankan pada kerja kolektif, kesatuan yang kuat di lapangan tengah, perjuangan keras merebut bola dan menahan laju lawan, serangan balik yang didukung pemain sayap yang cepat, mental tanding yang tangguh, determinasi dan tekad besar untuk menang, bertarung dalam satu kesatuan, pertahanan yang ultra defensif apalagi jika berhasil mencuri gol lebih awal.
Korea Utara yang dijukuki pasukan “chollima” pernah membuat sensasi besar di Piala Dunia 1966. Mereka kalah 0-3 dari Russia lalu menahan Cili 1-1 dan menekuk Italia 1-0 untuk melaju ke perempat final dimana mereka unggul 3-0 atas Portugal tetapi bintang kelahiran Mozambik, Eusebio, mencetak empat gol dan membalik skor menjadi 3-5 sekaligus mengirim pulang pasukan “chollima” itu.
Menghadapi 2010 Korea Utara berlatih Oktober lalu di Nantes Perancis dimana main draw 0-0 dengan Congo, mereka juga main di Amerika Selatan, Tengah, Afrika dan Eropa. Mereka datang mengusung spirit tahun 1966 tapi dikemas dalam skema main yang defensif dan mengandalkan serangan balik yang cepat.
Kekalahan sensasional Italia 44 tahun lalu itu suatu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Setelah prestasi gemilang itu Korea Utara absen dan baru muncul lagi di pentas dunia tahun 2010 ini. Kini pasukan “chollima” itu datang lagi dengan misi negara, mengulang sejarah 1966 bahkan harus leih hebat lagi. Kalahkan Brazil!
Pertandingan ini menarik. Karena pers dan dunia ingin tahu, sehebat apakah Brazil bisa mengatasi perjuangan anak-anak negeri komunis yang main tanpa beban. Di atas kertas Korea Utara chollima akan kalah, jadi tak ada salahnya main “lepas tanpa beban”, siapa tahu bisa menang. Kemenangan atas Brazil, si lima kali juara dunia akan menjadi catatan sejarah emas dan abadi bagi pasukan “chollima” asuhan Kim Jong-Hun. ***

No comments: