Friday, July 30, 2010

Serial World Cup 2010/Piala Dunia 2010

Serial World Cup 2010 (08)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Partai Pembukaan Yang Keras
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 11 Juni 2010

Dua pagelaran Piala Dunia yang terakhir 2002 dan 2006 tim tuan rumah gagal menjadi juara. Mungkin bisa dimengerti jika Korea dan Jepang gagal juara, tetapi Jerman di kandang sendiri tahun 2006 harus menggigit jari, itulah suatu bukti tidak semua tuan rumah bisa sukses juara. Atmosfir home-tournament ini berbeda dengan kompetisi home and away, meskipun sama-sama main di depan publik pendukungnya.
Sepanjang 18 kali penyelenggaraan hanya 6 negara yang sukses juara, Uruguay 1930, Italia 1934, Inggeris 1966, Jerman Barat (sekarang Jerman) 1974, Argentina 1978 dan Perancis 1998. Maka tidak perlu heran jika bursa tarohan mengunggulkan Spanyol Brazil Inggeris Argentina jauh diatas tuan rumah Afrika Selatan.
Tandatanya dan keinginantahu publik terhadap sepakterjang tim Bafana Afsel yang ditukangi pelatih kondang Brazil Carlos Alberto Parreira, akan terjawab pada partai pembukaan 2010 di Soccer City, Johannesburg 11 Juni jam 21.00 malam ini. Fans pecinta bafana-bafana akan memadati stadion mendukung timnya menghadapi Mexico.
Head to head dalam 3 pertemuan selama ini Mexico menang 2 kali dan kalah 1 kali dengan Mexico mencetak 9 gol kebobolan 4. Statistik ini tidak bicara banyak di lapangan, skuad Parreira sudah siap tanding, tanggal 31 Mei kemarin menang 5-0 atas tetangga Mexico, Guatemala. Hasil ini membuat Parreira makin yakin akan kekuatan skuadnya.
Tetapi Mexico juga tidak kalah garang. Mereka juga sudah siap tanding, dalam ujicoba jajal karakter Afrika, mereka menang dengan skor sama 1-0 atas Angola dan Senegal. Pelatih Mexico Javier Aguirre sudah siapkan permainan pressure dan serangan cepat yang khas Mexico.
Tim Afrika Selatan tidak punya tradisi kuat, pengalaman dua kali hadir di Piala Dunia 1998 dan 2002, hasilnya pun buruk tersisih di putaran pertama. Main 6 kali, menang sekali, 3 draw dan 2 kalah, mencetak 8 gol, kebobolan 11.
Mexico sudah naik pentas 13 kali, sejak 1994 tak pernah absen, memainkan 41 pertandingan, dengan 10 menang, 11 draw dan 20 kalah, memasukkan 43 gol kebobolan 79. Sebagian pemain masih belum melupakan atmosfir persaingan di Jerman 2006, bergabung di grup D bersama Iran, Angola dan Portugal. Lolos ke 16 Besar, kalah 1-2 dalam perpanjangan waktu dari Argentina.
Sudah jelas dalam tradisi dan pengalaman Piala Dunia, Mexico masih lebih beruntung. Tetapi dukungan fans tuan rumah akan menjadi keuntungan tersendiri bagi bafana-bafana yang sering kali menjadi kartu as kemenangan suatu tim.
Selain itu ada semangat dalam skuad Parreira ini. Tahun 1996 ketika menjadi tuan rumah Piala Afrika, mereka juara, itu satu-satunya gelar internasionalnya. Tetapi itu prestasi 14 tahun silam. Dan semua lawannya adalah sesama tim benua Afrika. Jadi tak bisa jadi ukuran.
Yang bisa jadi ukuran, yakni prestasi terakhir di Piala Confederasi 2009 sebagai tuan rumah mereka tampil memukau, melaju sampai semifinal dan kalah 0-1 dari Brazil. Dalam perebutan peringkat tiga juga dikalahkan Spanyol 2-3. Hanya kalah tipis dari Spanyol juara Eropa 2008 dan Brazil juara dunia lima kali, tidak memalukan. Fans bafana-bafana tidak kecewa.
Pertandingan pembukaan ini sangat krusial bagi kedua tim. Hasil draw akan mempersulit peluang mengingat dua rival Perancis dan Uruguay, siap mengancam. Suatu kemenangan bagi Mexico atau pun Afsel sama artinya dengan lima puluh persen peluang lolos. Diperkirakan kedua tim akan ngotot untuk menang, maka partai ini akan berlangsung keras.
Carlos Parreira yang membawa Brazil juara di USA 1994 penganut sepakbola menyerang. Tampaknya skuad Afsel pun bergaya menyerang dengan bola-bola bawah. Itulah kekuatan Bafana. Dukungan penonton yang mungkin full-house akan melecut semangat dan spirit Bafana untuk bermain cepat dan menyerang. Pemain yang jadi andalan Aaron Mokoena (Portsmouth), Kagisho Dikgacoi (Fulham), Steven Pienaar (Everton), Bernard Parker (FC Twente Belanda) dan MacBeth Sibaya (Rubin Kazan). Sayang pilar utama Benny McCarthy (West Ham) tidak masuk team lantaran masih cidera.
Mexico akan mewaspadai tekanan dan teror penonton yang pasti memengaruhi keberpihakan wasit pada tuan rumah. Jika pelatih Javier Aguirre yang selama ini berhasil merebut respek pemainnya, bisa menerapkan strategi jitu, bukan tidak mungkin Mexico mempersulit Afsel.
Sekarang ini Mexico makin percaya diri ketika bisa menumbangkan Italia 2-1 di ujicoba Brussels pekan silam. Memiliki lini belakang dengan komandan Rafael Marquez pemain yang sarat pengalaman di liga Eropa melalui klub Barcelona. Duo PSV Eindhoven Carlos Salcido dan Francisco Rodriquez serta Hector Moreno dari AZ Alkmaar. Ciri main pressure kepada lawan untuk menutup pertahanan dan serangan balik cepat akan dipraktekkan Marquez Cs.
Keuntungan Bafana yang main di Johannesburg ketinggian 1800 meter diatas permukaan laut tidak banyak pengaruh pada Mexico yang juga terbiasa main di dataran yang oksigennya tipis. Peluang Bafana menang sangat tipis, presentase hasil draw lebih besar.
Partai kedua cenderung lebih menarik dibanding partai pembukaan, laga antara dua tim juara, Uruguay juara masa lalu kontra Perancis juara dunia 1998 di Cape Town. Uniknya dua tim sama terseok-seok untuk lolos kualifikasi ke 2010. Uruguay harus menjalani play-off lawan Kosta Rika, sementara Perancis juga menang play-off namun lewat gol kontroversial William Gallas dari umpan “double handball”nya Thierry Henry. Tapi bagaimanapun juga kedua sudah masuk di 2010 dan bisa menjadi ancaman bagi tim mana pun.
Pelatih Perancis Raymond Domenech sudah terbiasa jadi bulan-bulan kritik tapi tetap bekerja keras yang justru mendapat dukungan pemain. Tidak kurang dari Patrick Viera yang tidak dipanggil Domenech tapi justru mendukung sang pelatih dan percaya akan membawa Perancis ke final. Les Blues memiliki banyak pemain besar dengan kualitas tinggi serta kemampuan mengubah permainan. Franck Ribery adalah pemain kunci, sedang Thierry Henry satu-satunya yang masih tersisa dari skuad juara dunia 1998 lalu masih akan berperan besar. Dua pemain ini menjadi inspirasi bagi timnya sebagaimana Zinedine Zidane bagi Les Blues.
Les Blues yang menyerang akan berhadapan dengan tim yang sangat kuat dalam pertahanan, Uruguay yang dijuluki La Celeste akan dimotori Diego Forlan, penyerang yang sanggup bekerja keras dari bawah dan menggerakan timnya. Forlan adalah bagian dari semangat tanding pantang menyerah Garra Charrua khas Uruguay. Terkadang semangat Garra Charrua diterjemahkan menjadi permainan keras yang merangsang wasit mengeluarkan kartu kuning.
Permainan menyerang Perancis, cepat dan haus gol akan berhadapan dengan Garra Charrua yang fanatik dalam bertahan. Domenech mengincar kemenangan, Oscar Tabarez mengincar hasil draw. Tapi Perancis lebih berpeluang menang katimbang draw.

***

No comments: