Serial World Cup 2010 (01)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Menghitung Peluang Afsel
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 22 Mei 2010
Sudah 18 kali Piala Dunia digelar sejak yang pertama tahun 1930 di Uruguay, tetapi hanya 6 tuan rumah yang sukses merebut gelar juara. Uruguay 1930, Italia 1934, Inggeris 1966, Jerman Barat (sekarang Jerman) 1974, Argentina 1978 dan Perancis 1998. Ternyata tidak mudah untuk menjadi juara dunia meskipun mendapat dukungan penuh supporter bangsa sendiri.
Negara besar dalam peta sepakbola pun merasakan pahitnya kegagalan ketika menjadi tuan rumah, sebutlah Perancis (1938), Brazil (1950), Italia (1990) dan Jerman (2006). Meskipun data lain berbicara bahwa semua tuan rumah paling tidak lolos dari putaran pertama. Maka orang pun bertanya-tanya seberapa besar kans Afrika Selatan merebut gelar dunia?
Pasar tarohan William Hill menjagoi Perancis sebagai juara grup A disusul Uruguay dan Mexico sama-sama di urutan kedua, sementara tuan rumah Afrika Selatan di urutan buncit. Artinya, pasar tarohan meramal Afsel bakal jadi negara tuan rumah pertama yang tidak lolos ke putaran dua. Data William Hill ini sangat dibenci para pecinta tim bafana-bafana.
Ketika merebut gelar di kandang sendiri 1930, Uruguay memiliki tim hebat, tim yang sangat kuat dan sudah main bersama sepanjang enam tahun. Mereka juara Olimpiade 1924 di Paris dan 1928 di Amsterdam. Selain itu memiliki bintang yang jadi inspirasi timnya, palang pintu (defender) Jose Leandro Andrade dan striker haus gol Pedro Petrone yang kemudian muncul sebagai top-scorer dengan 8 gol.
Italia ketika juara di kandang sendiri (1938) punya seabrek pemain talenta tinggi selain kerja keras manager Vittorio Pozzo. Pemain yang menjadi inspirasi tim adalah penyerang asal klub Ambrosiana Inter (kini Internazionale Milan) kelahiran Milan, Giuseppe Meazza yang menjadi top-scorer Liga Italia dengan 33 gol. Pozzo juga sukses merekrut 3 bintang Argentina yang menjadi inspirasi tim tango menjadi runner-up di Uruguay 1930, Luisito Monti, Raimundo Orsi, dan Enrico Guaita. Tiga bintang Argentina ini berdarah Italia yang biasa disebut oriundi dengan status kewarganegaraan ganda.
Kenyataan ini menyimpulkan tidak mudah bagi tim tuan rumah untuk menjadi juara jika tidak memiliki materi pemain kelas dunia, khususnya bintang inspirator tim. Dan meskipun memiliki bintang kelas dunia berlum tentu juga bisa berhasil menggondol piala bergengsi itu. Terbukti Perancis (1938) dan Brazil (1950) yang juga didukung pemain kelas dunia gagal juara di kandang sendiri.
Tahun 1966 Inggeris juara karena didukung tiga faktor kuat. Penonton bangsa sendiri yang terkenal fanatik, beberapa pemain kelas dunia serta manager Alf Ramsey yang dihari kemudian menjadi pahlawan bangsa dan diberi gelar Sir. Kerja keras Ramsey dengan pola baru 4-4-2 atau 4-3-3 sangatlah dikenang sampai sekarang ini sebagai master-piece seorang pelatih. Bintang kelas dunia yang gemerlap waktu itu, dua bersaudara Charlton (Bobby dan Jackie), kiper terbaik dunia Gordon Banks dan legenda Bobby Moore.
Hampir sama dengan Inggeris, Jerman Barat juga sukses merebut gelar dunia di tahun 1974 karena didukung tiga faktor penting. Penonton pendukung tuan rumah yang fanatik, manager yang ahli strategi Helmoet Schoen. Enam bintang klub Muenchen, semuanya kelas dunia, menjadi tulang punggung tim, kiper Sepp Maier, Georg Schwarzenbeck, Paul Breitner, Uli Hoeness, Gerd Muller dan Franz Beckenbauer. Mereka masih segar dengan pengalaman memenangkan gelar Champions Eropa.
Dukungan publik yang sangat fanatik sangat membantu Argentina memenangkan gelar di kandang sendiri 1978. Pelatih Cesar Luis Menotti sukses mengubah ciri main kasar dan brutal ke pola menyerang yang mengandalkan skill dan strategi. Skuadnya waktu itu didukung 5 pemain karakter yang menjadi pilar dan nucleus tim. Kiper Ubaldo Fillol dari klub River Plate, kapten dan libero Daniel Passarella (River Plate), gelandang elegan Osvaldo Ardilles (Huracan), striker Mario Kempes (Valencia Spanyol), dan penyerang sayap Leopoldo Luque (River Plate).
Setelah 1978 beberapa tuan rumah yang punya tradisi sepakbola yang kuat gagal. Spanyol 1982, Mexico 1986, Italia 1990. Sejarah mencatat dari 4 tuan rumah ini hanya Spanyol 1982 dan Italia 1990 yang diunggulkan. Tapi tetap saja tidak mudah menjadi juara meskipun didukung tiga faktor utama, penonton fanatik, manager cerdas dan pemain kelas dunia.
Perancis sebelumnya pernah tuan rumah tahun 1938 namun hanya sampai di perempat final. Tahun 1998 ketika mendapat kesempatan kedua “the blues” tak mau lagi gagal. Dalam persiapan menuju France’98, pelatih Aime Jacquet tak pernah habis dikecam pers setempat. Namun memasuki turnamen akbar itu seluruh rakyat mendukungnya. Jika di tahun 1984 ketika menjuarai Piala Eropa, pelatih Michel Hidalgo bertumpu pada Michel Platini, maka di France’98 Jacquet membangun timnya diseputar superstar berdarah Aljazair Zinedine Zidane.
Pasca suksesnya “les blues” giliran Jerman gagal di depan publiknya sendiri, tahun 2006. Itu empat tahun lalu. Orang bertanya, apa kurangnya Jerman, sampai tak mampu memenangkan gelar dan membiarkan Italia memetik keuntungan. Nah sekarang apa yang dimiliki Afrika Selatan untuk bisa juara di hadapan publiknya sendiri?
Bangsa dan negara yang masih merasakan perpecahan bangsa akibat politik apartheid, belum bisa menjamin dukungan mutlak rakyatnya. Belakangan tersiar kabar dari markas tim bafana-bafana, seluruh rakyat, kulit putih maupun hitam, sudah komit akan mendukung mutlak timnya.
Mereka memiliki pelatih kelas dunia, Carlos Alberto Parreira yang tahun 2010 ini akan menyamai rekor Bora Milutinovic melatih 5 tim dari negara yang berbeda di Piala Dunia. Parreira lebih unggul dibanding Bora, karena membawa Brazil, tim negaranya, juara di tahun 1994 ketika berlangsung di USA. Empat tim lainnya, Kuwait, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia dan Afrika Selatan.
Jadi tim bafana-bafana akan didukung penuh publiknya dan seorang pelatih kelas dunia Carlos Alberto Parreira, tetapi apakah mereka memiliki pemain kelas dunia yang bisa menjadi inspirator tim? Ada 4 pemain liga premier Inggeris, Aaron Mokoena (Portsmouth), Kagisho Dikgacoi (Fulham), Steven Pienaar (Everton) dan Benni McCarthy (West Ham), serta Bernard Parker di FC Twente Belanda. Namun jelaslah mereka belum tergolong kelas dunia.
Tim Afrika Selatan tidak punya tradisi kuat, hanya dua kali hadir di Piala Dunia 1998 dan 2002, tersisih di putaran pertama. Tahun 2010 partisipasi ketiganya, tiket diperoleh langsung sebagai keuntungan tuan rumah. Di “FIFA World Cup all time record” Afrika Selatan di urutan 46, dibawah Perancis urutan 6, Uruguay 12 dan Mexico 13. Mereka main 6 kali dalam dua Piala Dunia (1998 dan 2002), menang sekali, 3 draw dan 2 kalah, mencetak 8 gol, kebobolan 11.
Namun ada modal kebanggaan yang menyuntik semangat rakyat dan para pemain bafana-bafana. Tahun 1996 ketika menjadi tuan rumah Piala Afrika, mereka juara, itu satu-satunya gelar internasionalnya. Terakhir di turnamen Piala Confederasi 2009 sebagai tuan rumah mereka tampil memukau, kalah di semifinal 0-1 dari Brazil dan kalah 2-3 dari Spanyol di perebutan peringkat tiga. Mungkinkah bafana-bafana akan mengikuti jejak “keberuntungan” Korea Selatan tahun 2002? Mungkinkah mereka “revanche” kekalahan 0-3 dari “les blues” di Marseille (Piala Dunia 1998). Pasar tarohan William Hill membantahnya, untuk lolos ke putaran dua, saja sudah sangat tipis peluangnya. ***
Tuesday, July 27, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment