Serial World Cup 2010 (13)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Benarkah Brazil Meninggalkan Jogo Bonito?
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 15, 16, 17 Juni 2010
Pengantar :
Tidak dapat dipungkiri bahwa Brazil merupakan kiblat sepakbola dunia. Salah satu ciri khas yang membuat Brazil dijadikan kiblat sepakbola adalah prestasinya yang luar biasa, regenerasi pemainnya yang tak pernah putus, serta kreatifitas pelatih dan pemain untuk mengalahkan lawan. Semua itu dilakukan tim Brazil lewat permainan “jogo bonito” alias sepakbola cantik, yang tidak hanya untuk memenangi pertandingasn tetapi juga bagaimana caranya menang dengan indah. Belakangan tren sepakbola dunia cenderung defensif dan tidak enak ditonton. Mampukah Brazil menjagokan “jogo bonito” di tengah tren sepakbola bertahan yang makin mendunia? Ikutilah tiga tulisan berikut.
Di kualifikasi Piala Dunia 2002, Brazil nyaris gagal lolos. Pecinta sepakbola bahkan juga FIFA sempat jantungan ketika tim Samba itu terseok-seok dalam perburuan tiket ke PD 2002. Tetapi “thanks God” akhirnya Brazil lolos ke Piala Dunia. Tiket itu direbut Brazil pada pertandingan terakhir saat menjamu Venezuela di kandangnya sendiri Sao Luis, lewat dua gol striker Corinthians, Luizao dan satu dari bintang Barcelona, Rivaldo.
Lolosnya Brazil ini melegakan jutaan penggemar tim samba setelah sempat dibuat “jantungan” di dua pekan sebelumnya. Beberapa jam sebelumnya, tim panser Jerman juga lolos ke Piala Dunia setelah menang telak 4-1 dalam “play-off” lawan Ukraina di Dortmund. Bisa dibayangkan berapa banyak “lost money” (kerugian uang) yang dialami panitiya PD di Korea dan Jepang jika saja dua tim juara dunia ini –Brazil dan Jerman- gagal lolos.
Bicara kerugian penyelenggaraan Piala Dunia, sesuatu yang tak mungkin terjadi. Yang bisa terjadi hanyalah keuntungan yang berkurang. Kejadian play-off Perancis vs Irlabdia, berembus rumor FIFA “memprotek” Perancis dan menolak tanding ulang meski jelas-jelas bahwa gol penentuan kemenangan William Gallas diawali “double handsball” Thierry Henry yang lalu mengumpan ke mulut gawang. Ketika pemain Irlandia sibuk mengangkat tangan isyarat terjadinya hansdsball saat itu William Gallas dengan mudahnya – tanpa terjaga dan tanpa reaksi lawan- menceploskan bola ke gawang Irlandia. Tamatlah Irlandia. Dalam lobi dan pertemuan FIFA diputuskan tak ada pertandingan ulang, artinya Perancis yang ke 2010. Bayangkan jika terjadi sebaliknya? Jika Perancis yang dirugikan, mungkin saja akan ada tanding ulang. Ujung rumor itu jika Perancis yang lolos ke 2010 lengkaplah 7 juara dunia, dan bukankah penonton fans Les Blues lebih banyak yang akan datang ke 2010 dibanding misalnya Irlandia yang lolos.
Akan halnya Brazil tampaknya beberapa kali mendapat kendala besar di babak kualifikasi Piala Dunia, hambatan klasik yakni sulitnya mendatangkan para bintangnya yang main di klub-klub Eropa. Kalaupun mereka mendapat ijin dari klubnya itupun hanya 4 hari sebelum pertandingan.
Ketika harus menang atas Bolivia, sepekan sebelum partai lawan Venezuela, kendala ini muncul. Rivaldo, Cafu, Roberto Carlos dll bergabung 4 hari sebelum hari pertandingan. Waktu yang sempit untuk berlatih, mungkin ini sebab kekalahan Brazil 1-3 dari Bolivia selain faktor tipisnya oksigen di ketinggian 3700 meter di kota La Paz. Namun betapapun juga akhirnya Brazil sang juara dunia 4 kali – tetra campeo- sudah sampai di PD 2002, seperti komentar sang pelatih Luis Felipe Scolari, “memang tidak mulus dan tampak berat, tetapi akhirnya kami sampai juga di tujuan.”
Kejadian nyaris gagal lolos, pernah dialami Brazil beberapa kali pada tahun-tahun sebelumnya. Kendalanya pun juga sama, sempitnya waktu berkumpul dari para pemain bintangnya terutama para legiun Eropa, menyebabkan kurang mampunya pelatih mengoptimalkan materi “legiun Eropa” yang letih akibat ketatnya kompetisi di Eropa.
Tahun 1978 Brazil nyaris gagal. Pada pertandingan awal PPD hasil draw 0-0 lawan Kolombia membuat berang semua orang Brazil terhadap timnya. Si Pelatih Oswaldo Brandao dikecam, dicaci dan dihujat yang buntutnya dilengserkan dari jabatannya. Padahal masih ada 3 pertandingan lain, dua partai lawan Paraguay dan satu lainnya lawan Kolombia. Pokoknya Brandao lengser dan digantikan Claudio Cautinho yang sukses membantai Kolombia 6-0 dan mengatasi Paraguay sehingga lolos ke Piala Dunia Argentina’78.
Tahun 1994 pun Brazil dibawah pelatih Carlos Alberto Pareira bersama penasehat tehnis merangkap asistennya Mario Zagalo sempat dilanda krisis. Bergabung bersama Bolivia, Ekuador, Uruguay dan Venezuela di grup B dengan catatan hanya dua tim yang lolos langsung, posisi Brazil di ujung tanduk. Kalah 0-2 dari Bolivia di La Paz membuat Parreira dikecam habis dan CBF didesak untuk memecatnya. Nama Tele Santana, pelatih yang kondang meramu tim samba di PD 1982 dan 1986 diangkat pers dan publik disebut paling cocok menggantikan Parreira. Tetapi kali ini CBF diketuai Ricardo Texeira ngotot mempertahankan Parreira, tentu saja dengan jaminan mempertaruhkan jabatan kursi CBF jika tim samba sampai gagal.
Carlos Alberto Parreira jalan terus. Menggasak Ekuador 2-0, Bolivia 6-0, Venezuela 4-0. Sampai pada penghujung jalan yakni partai ke-8 menghadapi Uruguay, posisi tiga tim Brazil, Uruguay dan Bolivia sama-sama nilai 10. Jika Brazil sampai kalah dari Uruguay, maka habis sudah sejarah kebesaran Brazil. Pada saat kritis, penasehat tehnis Mario Zagalo mengusulkan merekrut mesin gol Romario Faria.
CBF dan Parreira menolak. Zagalo ngotot bahwa cuma itu jalan keluar, harus ada mesin gol apalagi saat itu striker Bebeto tidak fit dan sayap kiri Branco belum pulih. Tawaran Zagalo diterima, dengan taruhan Zagalo yang bertangungjawab atas “anak nakal” Romario itu.
Tulisan (2) Published 16 Juni
Di PSV Eindhoven, Romario tampil sebagai top-scorer Liga Belanda dan di klub barunya Barcelona, Romario jadi andalan pelatih Johan Cruyff. Namun “ulah” kenakalannya yang membuat CBF dan Parreira merasa tak mampu mengatasinya.
Di kandang sendiri di stadion Maracana Rio de Janeiro disaksikan 110.000 pecintanya, tim samba yang hanya perlu hasil draw nyatanya tampil agresip dan mengepung pertahanan Uruguay dengan serangan bergelombang. Kapten Dunga, Rai, Zinho, Bebeto, dan Romario didukung Branco dan Jorginho dari dua sayap, mendominasi Uruguay yang diperkuat Daniel Fonseca, Ruben Sosa, maestro Enzo Francescoli.
Ternyata Romario yang berjaya, dua golnya memenangkan Brazil 2-0. Gol pertama Romario masih belum meyakinkan publik Maracana karena trauma sejarah grand-final Piala Dunia ’50 ketika Brazil meski mencetak gol lebih dahulu akhirnya kalah dari Uruguay. Baru setelah Romario mencetak gol kedua, trauma sejarah itu pun lenyap dan akhirnya Brazil lolos, maka Parreira pun dipuji-sanjung begitu juga Romario.
Sepakbola Brazil tak pernah sepi dari berita di koran. Timnas Brazil “seleccao” selalu menjadi sorotan utama. Itu sebab pelatih seleccao ibarat duduk di atas “bara api” yang sewaktu-waktu bisa membakar dirinya. Dalam satu sisi, tak dipungkiri bahwa pelatih seleccao bahkan lebih populer dari Presiden Brazil. Di warung-warung kopi semua orang bicara bola, tua muda, lelaki perempuan, tak ubahnya dengan para komentator di layar kaca, radio dan juga di koran-koran.
Tahun 1986 Tim Selecao juga dilanda krisis, nyaris gagal ke Piala Dunia. Sang pelatih, Evaristo de Macedo hampir tak punya harapan lagi untuk meloloskan Brazil ke Mexico’86. Bukan itu saja, gaya main tim selecao ramuan Macedo dinilai tidak indah dan kontra produktif. Jogo Bonito, sepakbola indah yang dimainkan penuh improvisasi tapi punya ketajaman yang selalu membuahkan gol. Macedo gagal memperlihatkannya.
Dari warung-warung kopi itulah, penonton yang setia mengeluarkan duit untuk mengawal tim samba bahkan sampai ke Eropa pun. Mereka inilah yang bersuara keras, mengecam Macedo, menghujat dengan lantang dan keras, Macedo harus dipecat. Harus dan harus ! Satu nama lain, Tele Santana diusung untuk menjadi pengganti.
Kenapa Santana ? Bukankah Santana sudah gagal di PD Spanyol’82. Tapi mereka punya alasan kuat. Santana hebat memainkan jogo bonito. Di Espana’82 sepakbola menyerang ala samba dalam kemasan pola 4-4-2 diakui sebagai jogo-bonito yang sama dahsyatnya, sama produktifnya dengan selecao 1970 ketika pelatih Mario Zagalo memenangkan PD di Mexico’70. Kegagalan seleccao merebut gelar juara PD’82 tidak membuat tim ramuan Santana ini dilupakan orang. Santana juga tidak pernah dicaci-maki publik bahkan semua orang Brazil larut berduka dengan kekagalan seleccao di Spanyol. Inilah bukti bahwa jogo-bonito ramuan Santana diterima masyarakat secara meluas.
Kehebatan suara publik pernah mewarnai nasib Mario Zagalo di tahun 1974. Zagalo membawa selecao berlaga di PD’74 di Munich, Jerman. Tidak cuma kalah dan gagal, tetapi tim itu bermain buruk dan sama sekali lupa akan jogo-bonito. Mau tahu apa perbuatan orang-orang dari warung-kopi itu ? Mereka mengancam akan menggantung Zagalo di alun-alun, tiada maaf bagi Zagalo.Mereka membakar patung kertas Zagalo padahal mereka juga tahu, bahwa Zagalo adalah pahlawan tim samba ketika sebagai penyerang sayap merebut PD 1958 dan 1962 dan sebagai pelatih memenangkan PD Mexico’70 dengan sepakbola menyerang yang sangat ampuh. Ancaman itu membuat Zagalo tidak berani pulang dan langsung hijrah melatih klub di Saudi Arabia.
Jika orang-orang di warung kopi itu bisa menerima kegagalan Tele Santana, suatu bukti bahwa tim seleccao di PD’82 memang hebat dan ampuh, hanya sayang tidak beruntung. Karenanya mereka ingin memberi kesempatan lagi kepada Santana untuk memperlihatkan jogo-bonito di Mexico’86.
Tuntutan orang-orang dari warung-kopi itu mengguncang kantor CBF yang akhirnya setuju, dan Macedo lengser digantikan Tele Santana. Kembali Santana meramu pola favoritnya 4-4-2 memperlihatkan jogo-bonito yang ampuh dengan beberapa bintang eks selecao’82 Zico,Socrates, Falcao, Cerezo, Eder yang kemudian sukses meloloskan selecao ke Mexico’86. Sayangnya di PD’86 kembali keberuntungan menjauh dari Santana, selecao gagal juara lantaran kalah adu pinalti dari Prancis di perempatfinal.
Orang-orang di cafĂ© itu memang punya suara lantang namun cenderung obyektif dan seringkali menolong seleccao keluar dari kesulitan. Ketika CBF memilih Sebastiano Lazaroni untuk menangani selecao ke PD’90, publik protes. Alasannya, konsep Lazaroni, bahwa jogo-bonito harus dilupakan. Jogo-bonito tak bisa bersaing menghadapi gaya keras dan disiplin “speed and power”. Tidak cuma itu, Lazaroni bahkan memainkan pola 3-5-2, mengubah tradisi seleccao 4-4-2 yang dikemas Santana.
Konsep Lazaroni ini masuk akal, secara teori seratus persen benar. Jika hendak merebut gelar PD maka Brazil harus siapkan pola main yang mampu mengimbangi tipe Eropa, dan itu hanya bisa dengan pola 3-5-2. Apalagi Lazaroni membuktikannya di lapangan, merebut Copa America 1989, gelar dan sukses yang pertama bagi Tim Brazil sejak 40 tahun silam.
Tulisan (3) published 17 Juni
Sukses Lazaroni ini ibarat membungkam mulut dan komentar miring dari publik yang terkenal gila bola itu. Namun itu baru di Copa America, ukuran sukses yang sesungguhnya ada di PD Italia’90.
Kenyataannya di Italia’90 selecao gagal, di perdelapanfinal kalah dari Argentina lewat gol tunggal Cannigia membuat Lazaroni mundur. Lazaroni lengser, lenyap juga konsep “kontra jogo bonito”. Roberto Falcao, bintang seleccao’82 dan ’86 naik panggung dan mengembalikan ‘jogo bonito’. Tetapi Falcao tak mampu mengatasi ulah legiun Eropa yang sering terlambat berkumpul di TC seleccao. Hal ini memaksa Falcao memutuskan melupakan legiun Eropa dan hanya menggunakan pemain lokal. Ternyata inilah awal dari kegagalannya menukangi seleccao.
Sepakbola di Brazil sangat popular dan dimainkan dimana-mana. Setiap lelaki agaknya harus bisa main bola, atau jika dia cacat maka dia akan mahir main bola dengan lisan atau tulisannya. Setiap perempuan harus menyukai bola jika tidak ingin dikucilkan oleh kaum lelaki. Maka tidak heran, sepakbola menjadi urusan besar dan melebihi apa pun di Brazil, apalagi jika sudah menyangkut Timnas Selecao.
Frans Beckenbauer “sang kaizer’ Jerman, dalam satu kesempatan memuji Brazil sebagai “lumbung subur” yang selalu menghasilkan pemain dengan skill tinggi. “Melihat ini seharusnya Brazil tak perlu mengikuti babak kualifikasi Piala Dunia, dia langsung saja lolos ke putaran final.” Katanya.
Dari zaman ke zaman, Brazil tak pernah kehabisan pemain hebat. Begitu juga jika menilai permainan tim, maka seleccao jika sudah memainkan “jogo bonito’ maka orang pun pasti memuji-muji.
Sepakbola seharusnya tidak cuma memikirkan menang atau kalah. Sepakbola harus bisa memperlihatkan jati diri sebagai olahraga terpopuler di muka bumi. Puncak semua pertandingan sepakbola ada di Piala Dunia, itu sebabnya dijuluki ‘the greatest show on earth’. Tidak heran jika semua tim, semua pelatih dan pemain, sangat ambisi untuk tampil di PD. Dan selama ini Brazil yang satu-satunya yang tak pernah absen, kehadirannya selalu mengundang penonton.
Fondasi sepakbola Brazil adalah kegilaan pemain terhadap bola. Lebih luas lagi, kegilaan seluruh isi negeri itu akan bola. Sejak usia dini, anak lelaki sudah tergila-gila pada si kulit bundar. Mereka meningkatkan skill individunya hanya agar bisa menguasai kulit bundar. Ada hubungan erat antara pemain dengan bola, hubungan yang tak mungkin bisa putus. Bola seakan sudah menyatu dengan roh mereka.
Carlos Alberto Parreira, pelatih yang mengantar selecao juara di USA’94 dalam FIFA Magazine edisi Agustus 1997 mengatakan bahwa gaya “jogo bonito” adalah “possession games”. Gaya ini asli Brazil karena memang karakteristik orang Brazil, dan gaya ini tak bisa ditemukan di negeri mana pun juga. Tidak juga di negeri Latin lainnya.
Tidak jelas entah kapan ‘jogo bonito’ mulai muncul, tetapi gaya ini berkembang terus dan dikembangkan. Dasar utamanya adalah skill pemain harus tinggi, dia harus mampu menjinakkan bola dalam situasi sesulit apa pun. Dan seperti kata Beckenbauer, Brazil setiap saat melahirkan banyak pemain dengan skill tinggi.
Sepakbola dari tahun ke tahun semakin ketat, keras dan terkadang tidak terhindarkan benturan keras yang mengakibatkan fisik cidera. Hampir tidak ada ruang bagi seorang pemain untuk memperlihatkan skill didalam permainan melainkan sudah ditackle atau dipress lawan.
Situasi ini bukannya mematikan permainan individu, bahkan pada banyak pemain justru menjadi motivasi meningkatkan skillnya untuk memanfaatkan ruang dengan imajinasi dan kreasinya. Pemain seperti ini punya kemampuan tinggi untuk mengubah permainan. Maka tidak heran, melihat skill pemain Brazil maka jogo bonito bisa dimainkan dengan penuh variasi.
Tidak ada suatu tim pun yang mampu mempertahankan tempo tinggi sepanjang 45 menit kali dua, begitu juga sebaliknya tak akan mampu bermain tempo lamban sepanjang dua babak. Bagi Brazil jogo bonito adalah jawaban yang tepat, sebab dengan banyak pemain berskill tinggi maka perubahan tempo bisa diatur sesuai kehendak, situasi dan lawan yang dihadapi.
Itu sebab seperti di PD 1982, 1986, 1994 dan 1998 dimana Brazil memainkan jogo bonito terlihat bagaimana peragaan individual pemain terpadu dalam kombinasi kerjasama yang memukau. Tempo pun bisa lamban, sangat lamban, lalu mendadak berubah cepat dan tinggi dimana semua pemain bergerak tanpa bola. Di luar lapangan pun fans Brazil ikut partisipasi dengan memukul gendang dalam irama samba mengikuti tempo main yang dikembangkan seleccao di lapangan. Pemandangan makin semarak dengan kehadiran gadis-gadis Brazil berpakaian minim berlenggok menari mengikuti irama gendang samba. Benar memang, bahwa jogo bonito cuma bisa dimainkan oleh Brazil.
Hanya sayang, keindahan jogo bonito terkadang membuat pemain lupa bahwa sepakbola butuh kemenangan, dan untuk menang harus mencetak gol. Padahal prinsip ini sudah ditanamkan Tim Brazil’70 dengan falsafahnya yang terkenal “mencetak gol lebih banyak dari lawan.” Di PD Mexico’70 itu selecao memainkan “attacking football” yang fantastis, menghantam semua lawan dan puncaknya melumat “cattenaccio Italia” 4-1 di grand-final yang menoreh sejarah emas Brazil.
Tahun 2002 di Korea/Jepang, Brazil dibawah pimpinan Scolari tak cuma sukses memenangkan gela dunia kelima kalinya sehingga dijuluki penta campeo, juga permainan jogo-bonito yang begitu gemulai tetapi mematikan diperlihatkan Ronaldo, Ronaldinho, Roberto Carlos, Cafu Cs. Seluruh pecinta bola ikut menyaksikan peragaan jogo-bonito sepakbola indah ala Brazil sekali lagi. Tetapi kali ini, tuntutan publik Brazil lebih realistis. Mainkan sepakbola indah ala ‘jogo bonito’ tetapi sekaligus rebut gelar juara dunia itu. Dan pelatih Felipe Scolari jauh-jauh hari sudah menjanjikan gelar bagi Brazil, gelar ke-lima setelah 1958, 1962, 1970 dan 1994. Dan Scolari membuktikan ucapannya, Brazil juara di PialaDunia 2002. Sekarang ini di Afrika Selatan, Dunga menjanjikan kemenangan alias gelar juara ke-enam tanpa terikat oleh keharusan mainkan jogo bonito. ***
Saturday, July 31, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment