Ini lanjutan dari Bab Dua
Catatan : Novel Cersil ini sudah terbit dengan judul sama "Wisang Geni" karya asli John Halmahera dengan harga Rp 120.000 untuk dua jilid tebal 600-an halaman. Kalau mau discount, langsung ke penerbitnya.*****
Suasana pagi di sekitar bangunan tua itu sepi dan lengang. Tak terdengar kicau burung. Seakan mahluk unggas itu ikut berdukacita. Seakan ikut sedih atas malapetaka yang ditabur Kidung Maut tadi malam.
Wisang Geni masih membayangkan Rorowangi yang cantik. Rorowangi yang menangisi kematian adiknya. Rorowangi yang memandangnya dengan penuh rasa terimakasih. Ia juga tak bisa melupakan pengalaman mengerikan itu. Selama ini ia telah melewati banyak pertarungan namun sepakterjang musuh seperti Kidung Maut tak akan pernah bisa ia lupakan. Telengas, keji dan sangat lihai.
Geni masih memandangi rombongan Pujawati, Rorowangi dan dua murid Mahameru yang menghilang di balik hutan. Geni merasa ada sesuatu dari dirinya yang terbawa Rorowangi. Ia kesengsem akan kecantikan gadis itu. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang montok. Geni punya perasaan kuat si gadis punya perhatian padanya. Ia sering memergoki Rorowangi sedang memandangnya. Dan saat mata mereka bentrok, gadis itu melempar senyum dengan mata yang berkedip-kedip. “Ia juga ada perhatian padaku, tetapi apakah ia sudah punya hubungan dengan Setawastra, murid Mahameru itu?” Gumamnya dalam hati.
Dalam keadaan termenung, Geni dikejutkan panggilan Padeksa. “Geni, tadi saat kau diserang, tiba tiba dia membatalkan serangannya padamu, apa yang terjadi ?”
Wisang Geni tak bisa menjawab. Ia sendiri tak mengerti mengapa Kidung Maut membatalkan serangannya. Kalau saja serangan itu dilanjutkan, ia tak yakin bisa menghindari maut. “Waktu itu aku siap dengan kuda-kuda mangapeksa (menanti) dan siap menyerang dengan jurus angluputana (yang akan membebaskan) dan sumpetutit (jungkir berputar-putar), tetapi aku tak mengerti mengapa ia batal menyerang, ia mengeluarkan suara iiihhh seperti orang terkejut. Aku tak tahu apa yang membuat ia terkejut.”
Manjangan Puguh memotong penuturan Geni. “Coba, nak, kamu ingat-ingat suara orang itu, suara lelaki atau perempuan ?”
“Orang itu memakai topeng, wajahnya tak terlihat, potongan tubuh pun tersembunyi dalam jubah panjangnya. Waktu ia menyanyikan kidung agak sulit membedakan suaranya, tetapi tadi malam aku yakin mendengar suara kaget, suaranya mirip suara perempuan. Dia pasti seorang perempuan, guru.”
Manjangan Puguh mengerutkan kening, tampak ia berpikir keras. “Waktu benturan tenaga jarak jauh aku mencium bebauan yang biasa dipakai kaum wanita, wewangian bunga, apakah kau juga mencium bebauan serupa, Ki ?”
Padeksa yang ditanya tertawa lirih. “Aku tak pernah tahu bagaimana bebauan perempuan, tetapi memang aku sempat mencium wangiwangian segar semacam bebauan bunga.”
“Tak salah lagi, ia pasti perempuan !” Teriak Manjangan Puguh.
“Benar guru, aku juga mencium wewangian itu. Tetapi apa bedanya perempuan atau lelaki, yang pasti ia seorang pembunuh keji yang berilmu tinggi.”
“Ada bedanya bagiku, Geni. Itu bukti bahwa Kidung Maut bukan seseorang yang kukenal dan yang sangat kuhormati !”
“Siapa yang kau maksud, Guru ?”
Manjangan Puguh memandang langit. Suaranya agak serak. “Kejadiannya dua puluh lima tahun silam di tengah perang Ganter. Berdua kakang Gubar Baleman, aku bertarung lawan jago kepercayaan Ken Arok, pendekar Himalaya, Lahagawe dari India.
“Hebat ilmu pendekar itu, kami berdua terdesak hebat. Nyawa kami sudah di ujung rambut. Mendadak datang pendekar penolong itu. Keduanya kemudian terlibat tarung, sungguh perkelahian pendekar kelas utama. Sebelum dan sesudahnya aku tak pernah melihat ada pertarungan tingkat tinggi seperti itu lagi. Tidak sampai lima puluh jurus penolong itu sudah menghajar pendekar Lahagawe muntah darah. Pendekar penolong kemudian seperti terbang melayang pergi membawa serta Baginda Raja lolos dari kepungan lawan. Dia berlalu sambil mendendangkan kidung jurus penakluk raja itu.”
“Syairnya sama, guru ?”
“Syairnya sama persis. Hanya ada satu bait awal yang dinyanyikan pendekar penolong tetapi yang tidak ditembangkan si Kidung Maut tadi malam. Kidung itu sangat terkenal pada masa itu tetapi belakangan, setelah dua puluh lima tahun berlalu, orang mulai lupa. Lengkapnya begini,
Ilmu dari seberang,
Tak boleh tepuk dada,
Di Tanah Jawa ini,
Dari Gunung Lejar,
Jurus Penakluk Raja,
Ilmu dari segala ilmu,
Melenggang ke Barat,
Meluruk ke Timur,
Merangsak ke Utara,
Merantau ke Selatan,
Tak ada lawan,
Tak ada tandingan,
Ilmu dari segala ilmu
“Tadi malam Kidung Maut tidak menembangkan bait awal Ilmu dari seberang, Tak boleh tepuk dada, Di Tanah Jawa ini, Selain itu pembunuh tadi seorang perempuan, berarti ia bukan pendekar penolongku. Nah pertanyaannya sekarang, kalau ia bukan penolongku itu, lantas siapa dia ? Mengapa ia selalu menembang kidung penakluk raja setiap melakukan pembunuhan keji ?”
Suasana lengang seketika, Padeksa kemudian angkat bicara. “Sebenarnya kidung penakluk raja itu konon gubahan kakek Sepuh Suryajagad, tokoh sepuh dan legenda hidup perguruan kami. Dan hanya sedikit orang saja terutama di kalangan murid utama saja yang mengerti dan hafal kidung penakluk raja.” Padeksa berhenti sejenak lalu melanjutkan. “Ki Manjangan, penting sekali mengetahui pendekar penolong itu, kau satu-satunya saksi hidup yang pernah menyaksikan sepakterjangnya dalam perang Ganter, mungkin dari jurus ilmu silatnya bisa kita ketahui apakah dia Eyang Sepuh Suryajagad atau bukan, dan apa hubungannya dengan si pembunuh itu ?”
“Sudah dua puluh lima tahun berlalu, setiap kupikirkan tetap tak ada jawaban. Aku cuma merasa ilmu silat kakek penolong itu sangat tinggi dan sulit diukur. Terkadang aku merasa tak asing dengan gerak silatnya, tapi makin kupikir makin aku tak mengenalnya.”
Kening Padeksa berkerut, tanda ia berpikir keras. “Tampaknya ini rahasia besar yang menyangkut dunia kependekaran kita. Coba kaupusatkan pikiran dan mengingat kembali kejadian itu dan menceritakannya secara rinci. Mungkin bisa terpecahkan.”
Manjangan Puguh duduk bersila, dua tangannya sedekap dengan sepasang telunjuk menempel ujung hidungnya yang mancung. Ia memejamkan mata. Tidak mudah mengingat kejadian yang sudah dua puluh lima tahun berlalu. Kecuali jika kejadiannya memang sangat berkesan. Sebab jika kejadiannya sangat berkesan akan menempel ketat di alam bawah sadar. Untuk mengingatnya seseorang memerlukan konsentrasi penuh menggali ingatan atas kejadian itu. Kejadiannya memang sangat berkesan bagi Manjangan Puguh. Ada seorang wanita cantik terlibat di dalamnya, wanita yang sangat dicintainya, Sukesih. Wanita itu tewas bersama semua sahabat dan kenalan dekatnya, bahkan mereka yang sudah dianggap saudara.
Pendekar jangkung ini kemudian menceritakan apa yang dilihatnya. Pertarungan itu sangat dahsyat. Kedua pendekar itu memeragakan ilmu silat yang sulit dicari tandingannya. Pendekar penolong berjubah putih dengan anggun mengalahkan pendekar Lahagawe yang beringas dan penuh amarah. Pertarungan itu seperti terpampang kembali di depan matanya. Dia menceritakan dengan rinci setiap gerak yang dimainkan pendekar jubah putih itu.
Padeksa mendengar dengan serius, keningnya berkerut. Orangtua ini tampak berpikir keras. Tiba-tiba dia bangkit dari duduk dan melangkah, tangan dan kakinya memainkan jurus. “Gerak menepuk dua tangan lalu satu tangan mencengkeram ke depan itu pasti gerak awal jurus “sumujug tundaghata” (menukik dan menyerang mematuk). Tangan kiri menggaruk belakang kepala dan tangan kanan ditekuk dan diputar mengarah bumi itu jurus “parasada atishasha” (menara menjulang). Pinggang digoyang, tangan kiri mendorong pukulan lawan, tangan kanan menyusup ke depan mengelus dada lawan, itu gerakan akhir dari sumujug tundaghata. Itu peragaan jurus biasa ilmu garudamukha, tetapi karena digelar dengan tenaga dalam yang tinggi luar biasa, maka jurus menjadi sangat ampuh. Siapa lagi jikalau bukan Eyang Sepuh Suryajagad, satu-satunya orang yang bisa menggelar garudamukha sehebat itu.”
Wisang Geni tak bisa menyembunyikan keinginan tahunya. “Siapa beliau, siapa Eyang Sepuh Suryajagad ?”
Padeksa tak menjawab. Ia berdiri seperti patung, pandangan menerawang jauh. Manjangan Puguh menarik lengan muridnya. “Geni, biarkan dia sendirian, ia sedang memikirkan jurus tadi.”
Keduanya duduk. Geni menatap gurunya lekat-lekat. Manjangan Puguh menghela napas. “Geni, hidup memang banyak tantangan, apalagi hidup di dunia kependekaran yang serba keras dan kejam dimana hanya hukum rimba yang berlaku, siapa kuat dia jadi raja, siapa lemah dia jadi budak atau mati ditindas. Sering kita dilanda keresahan, bentrokan, marah, kecewa karena dua hal pokok.Tidak memperoleh apa yang kita inginkan. Atau memperoleh sesuatu yang tidak kita inginkan.
“Geni, aku dan ayahmu, beserta kangmas Gubar Baleman dan kangmas Mahisa Walungan sudah angkat saudara. Kami bertiga menjadi inti pasukan elit keraton yang dipimpin kangmas Mahisa Walungan yang tidak lain adalah adik Baginda Raja Kertajaya. Kami punya rencana besar yakni mencetak seorang pendekar yang sangat hebat dan menjadi nomor satu di dunia kependekaran. Kami sepakat memilih kamu. Sejak bayi, tubuhmu dibentuk dengan memberimu bekal kekuatan, jamu unggul dari gurumu Waragang, jamu dan makanan khusus menjadi santapanmu sehari-hari, obat anti racun, dasar tenaga dalam, dasar ilmu ringan tubuh. Kamu dilatih khusus.”
“Aku masih ingat, guru, waktu kau melatih aku berlari dan gelantungan di atas pohon. Ayah mengajari aku latihan tenaga dalam. Paman Baleman melatih kuda-kuda. Aku ingat semuanya.”
Manjangan Puguh melanjutkan, “tetapi perang Ganter telah mengubah semuanya, jalan hidupmu, jalan hidupku, semua berubah, tidak seperti yang kita rencanakan. Ayahmu dan pamanmu Gubar Baleman, juga ibumu dan saudara lainnya, semua tewas di Ganter.”
Wajah Geni tampak keras, ia memandang tajam gurunya, “Guru, aku sudah tahu orangtuaku tewas di Ganter, tetapi siapa orang yang membunuh mereka ?”
Manjangan Puguh memandang Geni. Dalam mata muridnya ia melihat pancaran bara api. Percikan marah dan dendam kesumat yang tak terukur besarnya. Manjangan Puguh menghela napas gundah. “Sebelumnya tidak pernah terpikirkan bahwa kita akan kalah dalam perang. Sebelum menuju Ganter, kami mendengar berita Lemah Tulis dibumihanguskan pasukan musuh. Kamu tahu Geni, sebagian besar hulubalang keraton adalah murid Lemah Tulis, sehingga berita itu sangat memukul mental pasukan keraton. Dendam dan kekhawatiran berbaur dalam diri kami. Ternyata pasukan Arok sangat tangguh, banyak pendekar berilmu silat tinggi yang membelanya. Satu demi satu hulubalang Kediri mati. Tetapi kami pantang menyerah. Meskipun terdesak, kami merasa tenang sebab Baginda Raja sudah lolos ditolong Eyang Sepuh Suryajagad. Kami akan tarung sampai tetes darah terakhir.”
Kejadian itu berputar kembali di depan mata Manjangan Puguh. Ia melihat Sukesih, ibu Wisang Geni, bersama suaminya Gajah Kuning bertarung bahu membahu. Satu hal yang tidak akan pernah ia ceritakan kepada Geni bahkan kepada siapapun, percintaannya dan perselingkuhannya dengan Sukesih. Ia mencintai wanita cantik itu saat masih gadis belia dan tak pernah luntur sampai ajal menjauhkan kekasihnya dari dekapannya.
Dia melihat panah nancap di pundak kekasihnya. Dia melihat tombak yang nancap di dada kekasihnya, dada yang sering dibelai dan dikecupnya. Dia mendengar kembali seruan kekasihnya. “Puguh pergi cepat selamatkan anakku. Cepat pergi, ingat janjimu.” Kemudian seruan yang kedua, “Pergi Mas Puguh, pergilah, tak ada gunanya bertahan, kita sudah kalah.”
Ketika dia melesat pergi dia masih menoleh ke belakang. Dia melihat Kalayawana menghantam kepala Gajah Kuning. Sekali lagi dia menoleh dan melihat tinju Kalayawana menghantam dada Sukesih. Dia berlari sambil menangis. Dia menangis sepanjang tahun, dia sedih lantaran tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menyaksikan perempuan yang dicintainya itu mati.
“Aku mencari-cari pembunuh ibumu itu. Tapi dia seperti hilang dari bumi. Semula dia berada di Tumapel, aku juga mencarinya di kuburan Gondomayu tetapi tak pernah bisa menemukannya.”
“Guru, kamu menyebut kuburan Gondomayu, apakah dia si penjahat kegelapan Gondomayu yang bernama Kalayawana?”
“Benar, Kalayawana!”
“Baik, aku akan mencari balas, hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa.”
“Geni kamu tak boleh membalas dendam sekarang, itu sama dengan mengantar nyawamu, ilmu silatnya sangat tinggi. Itu sebabnya kakek gurumu Padeksa tidak memberitahumu tentang Kalayawana.”
Wisang Geni tertawa lirih. “Tetapi kamu telah memberitahu, terimakasih guru!”
“Geni, aku tadi kelepasan bicara. Sebenarnya belum saatnya kuberitahu. Kamu harus janji padaku, jangan balas dendam sebelum ilmu silatmu maju pesat. Berjanjilah!”
“Soal itu, aku tak bisa menjanjikan apa-apa, guru.” Wisang Geni melihat ada penyesalan di mata gurunya, dia bertanya lirih sambil memegang tangan gurunya. “Guru, kamu mencintai ibuku dan ibu mencintaimu, benarkah?”
Puguh terkejut. Bagaikan disambar petir. Dia gagap menjawab. ”Kamu tahu? Darimana kamu tahu?” Geni tersenyum, menjawab dengan senyum. “Aku pernah melihat kalian berdua memasuki gua itu.”
“Kamu membuntuti kami? Lalu kamu memberitahu ayahmu?” Melihat Geni menggeleng kepala, Puguh bertanya lagi, “mengapa tidak lapor pada ayahmu?”
Geni menggeleng sambil senyum menggoda. “Itu biasa. Ayah dan ibu saling menyintai, jika tidak mana mungkin aku lahir. Ibu dan guru saling mencintai, jika tidak mana mungkin mau berduaan dan bercinta di gua itu. Drupadi mencintai lima Pandawa sedangkan ibu mencintai dua pendekar, jadi kupikir itu hal yang biasa. Lagipula aku menyayangi ayah, ibu dan juga kamu guru.”
Manjangan Puguh memandang muridnya dengan kagum. Dia melihat seorang muda yang jujur, cerdas dan berpikir jernih. Dia mengalihkan pembicaraan. “Kamu ingat, selain Kalayawana, juga Tambapreto mengeroyok kangmas Gubar Baleman. Dua musuh lainnya Bango Samparan dan Sempani membunuh kangmas Mahisa Walungan dan Sepasang Iblis Sapikerep membunuh pamanmu Kebo Ijo.”
Sepasang mata Wisang Geni memancarkan sinar penuh dendam. Tangannya terkepal, menahan amarah. Dia meyakinkan dirinya, “aku harus rajin berlatih, karena banyak hutang nyawa yang harus kutagih. Aku akan mencari kalian, Kalayawana, Tambapreto, Sempani, Bango Samparan, Iblis Sapikerep. Hutang darah bayar darah, hutang nyawa bayar nyawa!”
***
No comments:
Post a Comment