Monday, June 2, 2008

UEFA Euro 2008 - Piala Eropa 2008 - Perancis

Artikel Piala Eropa 02/28 Mei
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Perancis, Ingin Ketemu Italia Di Final

Oleh : John Halmahera

Sepakbola abad milenium agak sulit diprediksi mengingat hampir semua tim khususnya daratan Eropa, sama kuat dan sanggup saling mengalahkan. Lihat saja di Euro 2004, Yunani yang sama sekali tidak masuk bursa unggulan justru keluar sebagai juara. Tetapi bagaimana pun juga orang akan selalu meramal tim-tim unggulan sesuai reputasi dan rekor mereka. Italia seperti tulisan saya, Selasa (27/5) lalu, membawa rekor 111 penampilan selama mengikuti UEFA Euro Championship dengan 59 menang, 35 draw, 17 kalah dan selisih gol 175-77. Perancis lebih bagus, 117 penampilan, 67 menang, 29 draw, 21 kalah dan selisih gol 236 minus109 dengan prestasi dua kali juara 1984 dan 2000. Maka tidak salah jika bursa taruhan menyebut Perancis sebagai kandidat kuat merebut gelar kejuaraan Eropa yang dibidani Henry Delaeuny itu.
Pelatih Raymond Domenech, yang haus ilmu astrologi dan teater seperti kegilaannya terhadap sepakbola, nyaris didepak dari les blues ketika di awal kualifkasi Germany 2006 timnya terseok-seok. Pada saat kritis dia berhasil membujuk tiga pemain yang sudah gantung sepatu untuk “turun gunung”, Zinedine Zidane, Lilian Thuram, Claude Makelele. Suntikan tiga tenaga veteran itu tidak hanya meloloskan Perancis ke Germany 2006, Domenech bahkan membawa les blues menembus partai puncak dimana mereka kalah dari Italia dalam adu pinalti setelah sama kuat 1-1. Dia dikontrak sampai perhelatan piala Eropa selesai dengan Piala Dunia 2010 sebagai opsi jika sukses di Euro 2008. “Saya tidak memikirkan tahun 2010, tetapi Euro 2008 target saya!” Katanya.
Tahun ini Domenech punya ambisi besar memenangkan Euro 2008 dan tidak ingin tragedi final Piala Dunia 2006 terulang kembali. Bersusahpayah sampai di final Piala Dunia kemudian kalah adu pinalti dari Italia adalah pengalaman paling buruk baginya. Kali ini ke Austria/Switzerland dia membawa serta hampir seluruh skuad eks Germany 2006. Zidane sudah mundur tapi dua rekannya Lilian Thuram dan Claude Makelele masih bertahan. Begitu juga Patrick Vieira yang mungkin akan dipercaya sebagai kapten.
Pengalaman Raymond Domenech sebagai full-back tangguh dari klub Lyon dengan 8 caps membuat dia jeli membangun pertahanan yang solid. Mundurnya Fabien Barthez membuka pintu lebar bagi kiper berusia 35 tahun, Gregory Coupet dari klub Lyon. Empat palang pintu akan membentengi kiper Lyon ini, Willy Sagnol, Lilian Thuram, William Gallas, Eric Abidal. Hampir mustahil menggantikan lima pilar belakang ini kecuali kasus diluar dugaan seperti cidera. Secara kualitas individu dan kerjasama tim, kiper Coupet bersama empat pemain belakang itu merupakan yang terbaik dan berpengalaman.
Ketakutan akan cidera pemain menghantui hampir semua pelatih menjelang pendaftaran 23 pemain pada tanggal 28 Mei nanti. Begitu juga yang dirasakan Domenech beberapa waktu lalu. Sekitar 18 pemainnya, semua pilihannya dalam skuad 30, terlibat kompetisi yang memasuki masa krusial, yakni partai final. Di Chelsea ada Florent Malouda, Anelka dan Makelele. Di MU ada Patrice Evra, Louis Saha dan Mikel Silvestre yang saling berhadapan di final Champions League di Moscow yang dimenangkan MU tanggal 21 Mei lalu.
Delapan pemain dari Olympique Lyonnais (Lyon) klub juara Perancis masih berlaga di final French Cup 24 Mei kemarin menghadapi Paris St Germain. Karim Benzema, Gregory Coupet, Jeremy Toulalan, Francois Clerc, Sidney Govou, Sebastien Squillaci, Jean-Alain Boumsong dan Hatem Ben Arfa. Sementara di Paris St Germain ada Mickael Landreau dan Jerome Rothen. Pada hari yang sama kapten Patrick Vieira memperkuat Inter berlaga di Copa Italia versus AS Roma yang diperkuat Philippe Mexes Romato.
Situasi demikian membuat Domenech cukup pusing mengingat laga perdana Euro berhadapan dengan Rumania Senin 9 Juni di stadion Letzigrund Zurich. Faktor letih pemain akibat kompetisi di daratan Eropa yang begitu ketat merupakan momok bagi semua pelatih. Dan Domenech harus pintar-pintar menyusun program recovery dan menyusun strategi. Karena Rumania yang tidak diunggulkan tetap merupakan ancaman bagi les blues jika Domenech tidak hati-hati.
Mengenai materi pemain, meski Zidane tidak ada lagi, les blues tidak perlu terlalu khawatir. Pengganti Zidane secara kualitas sulit dicari. Tetapi Domenech akan bertumpu pada dua pilar pengalaman, kapten dan playmaker Patrick Vieira dan Claude Makelele sebagai poros lini tengah. Beberapa nama lain untuk lini vital adalah Alou Diarra dari Bordeaux, Mathieu Flamini dari Arsenal, Jeremy Toulalan dari Lyon dan Lassana Diarra dari Portsmouth Inggris.
Selama ini Domenech menggemari pola 4-4-2. Namun formasi akan berubah dalam varian 4-2-3-1 jika menghadapi situasi dan lawan tertentu. Frank Ribery yang membawa Bayern Muenchen juara bundesliga dan Florent Malouda diposisikan di kanan dan kiri, sedang Thierry Henry menjadi pilihan utama posisi striker. Mungkin saja Henry akan berpasangan dengan Nicolas Anelka yang memukau selama kualifikasi atau striker muda Lyon berusia 20 tahun yang sedang naik daun, Karim Benzema.
Ada dua pemain muda yang bakal menghuni les blues generasi baru, Samir Nasri dari Olympique de Marseille dan Hatem Ben Arfa dari Lyon usia 21 tahun. Samir diharapkan mengisi lini tengah berperan dan fungsi seperti halnya Zidane sedang Hatem akan diplot di wing kiri. Selain itu Sidney Govou akan menjadi pelapis yang berguna.
Domenech membuat kejutan dengan tidak memanggil David Trezequet yang cukup bersinar musim ini bersama Juventus ketika dia mengumumkan nama 30 pemain yang dipersiapkan untuk Euro dalam konperensi pers di Tignes medio Mei lalu. Kejutan lain adalah dipanggilnya penyerang Saint-Etienne, Bafetimbi Gomis karena bersinar di musim ini dengan 16 gol liga. Gomis adalah pendatang baru di les bues. “Itu bukan kejutan, saya sudah mengamatinya sejak lama, adapun saya tidak memanggil Trezequet itu sematamata kebutuhan tim,”katanya.
Saat ini Domenech sedang mempersiapkan skuadnya menghadapi laga friendly internasional melawan Ekuador 27 Mei di Grenoble, Paraguay 31 Mei di Toulouse dan Kolombia 3 Juni di stade de France sebelum laga resmi menghadapi Rumania 9 Juni, Belanda 13 Juni dan Italia 17 Juni mendatang.
Persaingan di grup C ini akan memuncak dalam atmosfir panas jika memasuki matchday 3 belum satu pun tim yang memastikan diri lolos. Situasi demikian maka partai terakhir Perancis versus Italia di stadion Letzigrund Zurich berbarengan waktunya dengan laga Belanda versus Rumania di stade de Suisse Berne akan menjadi neraka bagi keempat tim. Khusus bagi Italia dan Perancis, dua favorit yang diunggulkan lolos dari grup C ini, pertemuan itu bisa saja sebagai laga awal. Jika keduanya lolos, dan berjaya di babak knock-down bisa-bisa bertarung ulang di grand-final. Persaingan Perancis dan Italia belakangan ini selalu panas, terutama sejak “clash” Materazzi dengan Zidane di final Piala Dunia Germany 2006. Dipastikan pertemuan mereka 17 Juni mendatang akan menjadi topik paling “hot” dalam sepakbola internasional. Bagi Perancis, terutama Domenech, dia mengharapkan ketemu Italia di grand-final. Dia berambisi menebus kekalahan dari Italia di final Germany 2006 kemarin, dengan mengalahkan Italia juga di final.***

No comments: