Monday, June 2, 2008

UEFA Euro 2008 - Piala Eropa 2008 - Belanda

Artikel Piala Eropa 03/29 Mei 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Belanda, Pertaruhan Terakhir Bagi Van Basten

Oleh : John Halmahera

Marco Van Basten mengambil alih skuad Oranye dari Dick Advocaat setelah tim Belanda itu menembus semifinal UEFA Euro 2004. Dia hanya berbekal pengalaman melatih Ajax junior. Tetapi bersama Oranye dia mengawalinya dengan 15 internasional tanpa kalah sebelum ditekuk Italia 1-3 dalam friendly November 2005. Orang-orang Belanda mulai menaruh harapan besar ketika Basten meloloskan Oranye ke Germany 2006. Di turnamen paling akbar itu, Oranye tidak terkalahkan di grup C menang 1-0 atas Serbia Montenegro, 2-1 atas Pantai Gading dan draw 0-0 lawan Argentina. Sayang di babak 16 Besar, Oranye tumbang 0-1 oleh Portugal.
Kali ini UEFA Euro 2008 merupakan event perpisahan bagi Basten dengan tim Oranye. Ada yang ingin dicapainya di Austria/Switzerland yakni gelar juara. Ambisinya yang paling besar, mencatatkan diri sebagai pemain dan pelatih Belanda yang pernah meraih gelar Euro. Sebagai pemain dia pernah meraih gelar itu di tahun 1988 bersama Oranye yang ditukangi Rinus Mihels. Pada event itulah dia mencetak gol monumental ke gawang Uni Soviet (sekarang Russia) yang dikawal Rinat Dasayev, salah satu gol terindah sepanjang Euro. Kesempatan merebut gelar akbar sebagai pemain dan pelatih hanya datang satu kali dalam hidupnya, sekarang lah waktunya. Karena seusai Euro 2008, dia mundur dari Oranye untuk melatih Ajax sementara Oranye pindah tangan ke pelatih Feyenoord, Bert van Marwijk.
Belanda dua kali runner-up Piala Dunia 1974 dan 1978. Waktu itu Oranye pantas menjadi juara. Materi tim hampir semuanya pemain kaliber dunia, antara lain Johan Cruijf, Johan Neeskens, Johnny Rep, Ruud Krol, Arie Haan, Kerkhoff bersaudara. Mereka memainkan total-football ciptaan Rinus Michels yang memesona dunia dan yang sampai sekarang menjadi tradisi yang mengakar-kuat dan mewarnai sepakbola Belanda di semua level. Hanya ketidakberuntungan saja yang membuat mereka kalah di final dari dua tuan rumah, Jerman (Barat) 1974 dan Argentina 1978.
Belanda belum sekalipun meraih gelar bergengsi (PD dan Euro) sampai saat dimana Rinus Michels menghimpun semua pemain terbaiknya dalam pola menyerang total-football 4-3-3 merenggut gelar Euro 1988. Di skuad itu Ronald Koeman, Frank Rijkaard, Ruud Gullit dan Marco van Basten menjadi tulangpunggung timya. Empat pemain ini dikemudian hari menjadi pelatih yang cukup beken.
Setelah itu Belanda tak pernah lagi bisa sampai di puncak turnamen akbar. Persoalan klasik internal tim –perpecahan diantara pemain- selalu mengemuka pada saat kritis. Rinus Michels cukup disegani, tetapi itu saja tidak cukup. Perlu dukungan pemain, dan empat pemain itulah yang menjadi “pengendali dan pemersatu” di lapangan.
Sebagai pelatih Marco van Basten mengalami hal yang sama, tetapi dengan reputasinya sebagai pemain bintang –mencetak 128 gol untuk Ajax dan membawa gelar UEFA Cup 1986/1987 untuk Ajax, dibeli AC Milan dengan bandrol 2,5 juta euro tahun 1987, membawa Oranye juara Euro 1988, Milan juara Champion 1989, 1990- sudah patut jika semua pemain menghargai dan respek padanya. Dan dia telah memperlihatkan “gigi” dengan mematahkan kesombongan pemain besar Belanda terutama yang senior. Ruud van Nistelrooy pernah jadi korban ketika ditendang dari Oranye karena protes dijadikan cadangan. Belakangan van Basten memanggil striker Real Madrid itu kembali, namun tindakan sebelumnya itu sudah cukup dimengerti pemain lain, bahwa van Basten punya “gigi” dan akan “menggigit” siapa saja pemain yang membangkang, tidak perduli dia bintang sekalipun.
Bergabung di grup C bersama dua favorit Perancis dan Italia serta kuda hitam Rumania, skuad Oranye layak disebut underdog. Artinya kalaupun Perancis dan Italia yang lolos bukanlah kejutan besar. Berbeda dengan pasar taruhan yang menempatkan dua tim itu sebagai favorit, pelatih kedua tim itu, Raymond Domenech dan Roberto Donadoni justru sangat respek pada skuad Oranye. Pada Senin 9 Juni Belanda akan menghadapi Italia, empat hari kemudian melawan Perancis dan Selasa 17 Juni versus Rumania. Ada keuntungan bagi Belanda yang tidak dimiliki tiga rivalnya di grup C yakni tiga pertandingannya dimainkan di stade de Suisse kota Berne.
Pola 4-3-3 sangat akrab dimainkan Belanda sejak era Rinus Michels dekade 1970, tapi terkadang beralih ke 4-4-2 yang lebih prakmatis. Pola ini membawa Oranye berjaya di kualifikasi. Rinus Mihels, guru Basten, pernah juga memainkan pola 4-4-2. Bulan Desember kemarin, Van Basten mencoba 4-2-3-1 sebagai satu alternative untuk lebih memperketat pertahanan. Tampaknya Basten tidak mau pola 4-3-3 menjadi boomerang bagi timnya. Semua tim lawan seakan sudah tahu persis cara menghadapi Belanda, bertahan rapat dan menyerang balik secepat mungkin, mencuri gol ke gawang Oranye.
Kemarin Basten mengumumkan 23 pemainnya. Satu pemain terakhir yang dicoret dari skuad 24 adalah Khalid Boulahrouz, bek Sevilla FC berusia 26 tahun. Agaknya van Basten lebih memerlukan bek Blackburn Rovers Andre Ooijer dan bek Wigan Athletic Mario Melchiot. Tiga hari sebelumnya dia memulangkan kiper Sander Boschker dan gelandang Denny Landzaat.
Dibawah mistar van Basten akan mengandalkan Edwin van Der Sar sang kapten yang semangatnya sedang berapi-api setelah ikut membawa Manchester United juara Champions 2008. Selain Ooijer dan Melchiot, lini belakang akan diperkuat pemain vital Joris Mathijsen dari Hamburg SV, Wilfred Bouma (Aston Villa), Johny Heitinga (Ajax) dan dua bek Feyenoord, Giovanni van Bronchorst dan Tim de Cler.
Semua pemain harus fit dan siap tanding di partai perdana lawan Italia. Mungkin gelandang elegan Arsenal, Robin van Persie masih disimpan. Pemain ini cidera lutut dan sejak 28 April absen membela klubnya di kompetisi premier league, kini sudah sembuh dan menjalani latihan tersendiri dalam kamp Oranye. Namun Basten hanya akan memainkannya jika gelandang usia 24 tahun itu sudah fit seratus persen.
Di lini tengah Basten masih punya dua bintang kreatif lainnya, Rafael van der Vaart (Hamburg SV) dan Wesley Sneijder (Real Madrid). Sejatinya ada pemain pengalaman dari AC Milan, Clarence Seedorf, sayang senior ini minta mundur. Seedorf hanya mau masuk skuad jika jadi pemain inti dan Basten tidak mau menjanjikan itu. Lini tengah masih punya materi lain, Nigel de Jong rekan seklub Rafael Van Der Vaart, gelandang FC Twente, Orlando Engelaar dan Ibrahim Afellay dari PSV.
Meski dijuluki underdog, namun Belanda cukup disegani terutama karena memiliki banyak penyerang subur. Salah satu andalan Basten di lini depan adalah striker Real Madrid, Ruud van Nistelrooy yang sedang mengincar rekor 40 gol internasional Belanda ditangan Patrick Kluivert. Striker lain yang bisa operasional di sayap untuk suplai bola ke kotak pinalti lawan adalah Klaas Jan Huntelaar yang musim ini gemilang di klub Ajax, dua bintang Liverpool, Dirk Kuyt dan Ryan Babel, Jan Vennegoor of Hesselink (Celtic) serta mantan sayap Chelsea yang musim kemarin memperkuat Real Madrid, Arjen Roben.
Akan sangat menarik menyaksikan partai Belanda versus Italia. Kekuatan menyerang Belanda akan diuji tembok pertahanan Italia. Selama mengikuti turnamen akbar kawasan Eropa ini, Belanda punya rekor yang terbilang gemilang. Memainkan 117 pertandingan dengan 72 menang, 22 draw dan 23 kalah. Selisih gol sangat fantastis memasukkan 241 gol, kemasukan 91, suatu bukti bahwa kekuatan menyerang Belanda sangat mematikan, bukanlah isapan jempol. Belanda sungguh-sungguh underdog yang bisa menggigit tim mana pun juga. Dan Van Basten bersama Oranye sedang mengincar gelar bergengsi yang sudah 20 tahun tak pernah dicicipi negeri kincir angin itu. ***

No comments: