Monday, June 23, 2008

Piala Eropa 2008 : Perempat Final Russia vs Belanda

Piala Eropa 21 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Sihir Hiddink Coba Tahan Belanda

Oleh : John Halmahera

Sebelum kick-off Euro 2008 pasar taruhan mengunggulkan Jerman, Spanyol, Portugal, Prancis dan Italia. Waktu itu Belanda hanya di urutan lima atau enam, tetapi setelah dua pertandingan grup diselesaikan dengan membekuk Italia juara dunia 2006 dan Prancis juara dunia 1998, Belanda melonjak ke puncak pasar taruhan. Maka tidak heran Belanda diunggulkan atas Russia di perempat final di kota Basel ini. Orang teringat tahun 1988 ketika Rinus Michel membawa pasukan Oranye menjuarai Euro. Di final tim Oranye mengalahkan Russia (waktu itu masih Uni Soviet) dan Marco van Basten mencetak gol spektakuler menit 54, mengubah skor 2-0 setelah sebelumnya Ruud Gullit menembus gawang Rinat Dasayev menit 33.
Itulah satu-satunya gelar “mayor trophy” yang pernah direbut Belanda. Kini tahun 2008, van Basten ingin mengulang sejarah 1988. Dulu sebagai pemain, kini dia pelatih.
Dua langkah lagi, dia akan membawa Oranye menembus final untuk pertamakalinya sejak 1988. Selama ini pencapaian Belanda hanya 3 semifinalis (1976, 1992, 2000) dan juara (1988). Ambisi dan tekad Oranye tidaklah mudah, karena masih ada Russia yang harus dilewati. Belanda diunggulkan, presentase menang cukup besar. Tetapi sepakbola tidaklah indah jika tidak melahirkan kejutan. Apa saja bisa terjadi. Seperti Turki menyingkirkan Ceko 3-2, dengan dua gol Nihat Kahveci di tiga menit akhir. Kemudian Semih Senturk menembus gawang Kroasia beberapa detik menjelang “extra time” usai, membuat skor 1-1. Turki kemudian menang dalam adu pinalti dan melaju ke semifinal menantang Jerman. Itulah kejutan.
Belanda juga mewaspadai kebangkitan Russia. Setelah terpuruk 1-4 ditumbuk tim matador Spanyol, keajaiban tangan emas Guus Hiddink menyulap Russia menjadi tim pemenang. Berturutan Yunani digasak begitu pun Swedia. Hiddink yang orang Belanda asli ditantang untuk menjadi “penyihir” lagi dan mengalahkan tim negerinya sendiri. Tetapi mungkinkah itu? Strategi apa kira-kira yang diterapkan Hiddink?
Jika Russia mengubah pola dari menyerang dalam dua pertandingan sebelumnya, ke format defensive, itu tidaklah heran. Kekuatan Russia dalam dua pertandingan akhir adalah memenangkan duel lini tengah. Hiddink punya Semshov, Semak, Bilyaletdinov, Zhirkov dan bintang klub Zenit Petersburg, Andrei Arshavin. Semua gelandang Russia ini sudah dibiasakan Hiddink untuk menempati berbagai posisi midfield, bisa kiri, kanan dan tengah. Tetapi khusus Arshavin, yang posisi aslinya penyerang depan, diberi tugas menjelajah lini tengah.
Jika Hiddink memilih yang lebih defensive maka gelandang ini akan dirapatkan dengan lini bertahan. Tak boleh ada renggang jarak. Pola pertahanan berlapis ini sering dimainkan tim underdog jika bertemu lawan yang didukung kualitas penyerang mumpuni dan produktif. Maka benturan kekuatan midfield akan berperan, siapa yang lebih dominan dan menguasai lini tengah dialah yang menang. Belanda akan memainkan skuad terbaiknya. Wesley Snijder, Rafael van der Vaart, Arjen Robben, Nigel de Jong, Robin van Persie. Dalam situasi tertentu, van Bronckorst dan Khalid Boulahrouz akan naik dari wingback ke midfield. Pilihan lain, masih ada Dirk Kuyt, gelandang subur dengan 41 caps dan 8 gol, satu diantaranya di Euro 2008 dan Orlando Engelaar si jangkung 196 cm yang bisa main di kiri maupun gelandang bertahan.
Memiliki seabrek kualitas midfielder maka Van Basten punya banyak pilihan dalam format menyerangnya. Memang Belanda dipastikan akan main menyerang. Dalam 3 pertandingan grup, Oranye mencetak 9 gol dan hanya kebobolan satu. Andalan ini depan tidak lain, striker Real Madrid, Ruud van Nistelrooy selain cadangan Klaas Jan Huntelaar dan Jan Vennegoor of Hesselink. Penyerang utama Nistelrooy dengan 32 gol dikantongnya sedang mengejar rekor gol Belanda yang masih ditangan Patrick Kluivert dengan 40 gol.
Permainan Belanda selama 3 pertandingan, sangat menarik ditonton. Mereka sudah padu dalam satu tim yang utuh dalam permainan ataupun di luar lapangan. Beberapa hari lalu, Anissa, putri Khalid Boulahrouz meninggal dunia karena lahir premature, seluruh skuad berduka cita. Basten memberi keleluasaan pada bek kanannya untuk mendampingi isterinya, Sania, di rumah sakit. Ketika Khalid kembali ke kamp, Basten dan skuadnya menyambut gembira, apalagi pernyataan bek Sevilla itu bahwa dia siap mental dan fisik untuk main lawan Russia. Keutuhan di luar lapangan menjadikan Oranye bisa bermain lepas, tak ada beban meski berambisi besar untuk menang. Penonton akan menyaksikan permainan atraktif dan attacking Belanda sekali lagi.
Benarlah apa yang dikatakan para ahli, pertahanan terbaik adalah menyerang. Belanda memainkan pola menyerang yang selalu jadi ciri klub dan timnas Belanda selama ini. Di kubu Russia, sang “penyihir” Guus Hiddink yang pengalaman menangani klub-klub negerinya, bahkan pernah menangani sebagian pemain Oranye saat ini, tentu sangat mengenal lebih kurangnya “attacking football” Belanda ini. Mungkin Hiddink punya resep tertentu? Tetapi sampai dimana kekuatan “sihir” Hiddink jika menghadapi kecepatan serangan ala skuad Marco van Basten dini hari nanti. Prediksi Belanda menang sekitar 54 persen banding 46. Kemungkinan draw sangat kecil. ***

No comments: