Piala Eropa 20 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN
UEFA Euro 2008
Kroasia vs Turki, Sama-Sama Yakin Menang
Oleh : John Halmahera
Slaven Bilic, pelatih Kroasia yang berusia 39 tahun, menaruh respek pada Turki yang akan dihadapinya di stadion Ernst Happel, kota Wina, dini hari nanti. Dia tak menyangka, bahkan fans Turki sendiri pun tak mengira bahwa Nihat Kahveci dalam waktu 3 menit menjelang usai bisa mencetak dua gol dan membalik skor menjadi 3-2 sekaligus mengirim pulang Rep Ceko. Semangat tarung tak kenal menyerah sebelum pluit panjang wasit berbunyi, itulah karakter tim bulan sabit itu.
Kroasia, tim bagus dalam permainan, punya karakter dan spirit tinggi. Kroasia dibangun dengan fondasi beberapa veteran berpengalaman seperti centreback Dortmund berusia 34 tahun, Robert Kovac, dengan 76 caps sebagai pilar pertahanan dan bek kanan Dario Simic dari klub Milan, 33 tahun dengan 99 caps serta gelandang bertahan Salzburg, Niko Kovac, 37 tahun, dengan 79 caps. Kematangan ketiga pilarnya ini membuat Slaven Bilic sangat percaya pada timnya, terutama pola semi-defensifnya, 4-1-3-1-1. Koordinasi pertahanan rapat dan serangan balik cepat inilah yang mengalahkan Jerman 2-1 di Klagenfurt 12 Juni lalu.
Pelatih yang mahir memainkan gitar dan mencari inspirasi strateginya lewat musik, membuat kejutan setelah ditunjuk menjadi pelatih Kroasia usai Piala Dunia 2006. Publik menyebutnya “gila” karena merekrut dua pemain muda Luka Modric (lahir 09-09-1985) dan Vedran Corluka (05-02-1986). Tapi Bilic jalan terus, memainkan keduanya di ujicoba pertamanya lawan Italia di Livorno. Dia tahu persis kapasitas dua pemainnya yang jadi pilar Kroasia U-21 yang ditukanginya waktu itu.
Sekarang ini, Luka Mudric jadi playmaker lini tengah, dan saking gemerlapnya pemain dengan tinggi 174 dan berat 65 kg dengan 28 caps dan 4 gol itu dibeli Tottenham Hotspurs dari klub lamanya Dinamo Zagreb. Begitu juga Vedran Corluka, pemain bertahan dengan 23 caps, bisa di centreback dan juga bek kanan.
Corluka dengan tinggi 193 dan berat 88 kg telah jadi bagian dari skuad inti Manchester City. Keduanya jadi pilihan pertama. Modruc main penuh di 2 pertandingan awal Kroasia. Pada pertandingan terakhir, karena sudah memastikan lolos, Modruc disimpan. Corluka main penuh di 2 pertandingan awal, di pertandingan lawan Polandia masuk menggantikan Dario Knezevic menit 28.
Gebrakan demi gebrakan telah diperlihatkan Slaven Bilic dengan skuadnya itu, menyingkirkan Inggris di stadion Wembley yang angker dalam kualifikasi Euro dan terakhir ini mengalahkan Jerman untuk lolos ke perempatfinal. Dia optimis timnya akan sampai di grandfinal dan meraih gelar juara Euro 2008, gelar pertama untuk negaranya.
Target dan impian Kroasia akan diuji semangat-tarung Turki. Pelatih Fatih Terim
yang sudah kehilangan 4 pilar penting, kiper Volkan Demirel, dua bek Emre Gungor dan Servet Cetin serta kapten Emre Belozoglu, tetap optimis bisa mengalahkan Kroasia.
Dari 3 penampilannya, Turki telah memperlihatkan kemampuannya dan sanggup lolos ke perempatfinal dari grup dimana Portugal, Ceko dan Swiss yang diunggulkan. Turki membuat kejutan, setelah kalah 0-2 dari Portugal mereka mengalahkan Swiss 2-1 dan Ceko 3-2. Fantastis, karena mencetak gol kemenangan di detik terakhir. Lawan Swiss oleh midfield usia 21 tahun, Arda Turan di injury-time. Lawan Ceko, dua gol di 3 menit akhir oleh Nihat Kahveci, sang kapten tim.
Gol-gol seperti ini hanya bisa dicetak oleh tim yang memiliki semangat tinggi, pantang menyerah dan tarung sampai keringat paling penghabisan. Keuletan Turki sudah dibuktikan di Piala Dunia 2002 ketika di semifinal mempersulit Brasil dan mengalahkan tuan rumah Korea dalam perebutan peringkat tiga. Prestasi di Piala Dunia 2002 itu bukan kebetulan, mereka membuktikannya di Euro 2008.
Skuad Fatih “sang kaisar” Terim sangat padu dan mengutamakan strategi pressure dengan merapatkan pertahanan rapat. Mereka main dengan pola defensive 4-2-2-1-1 namun bisa berubah menjadi ofensif 4-3-3 jika situasi membutuhkan. Mereka memainkan sepakbola dengan benar, punya beberapa pemain dengan individual skill mumpuni, beberapa striker dan gelandangnya punya shooting jarak jauh. Mereka bisa memasuki daerah lawan dengan 6 sampai 7 pemain, tetapi bisa bertahan di daerah sendiri dengan 8 sampai 9 pemain berlapis-lapis. Serangan baliknya ampuh.
Slaven Bilic telah mengistirahatkan 9 pemain intinya ketika lawan Polandia sehingga punya waktu istirahat lebih panjang dari Turki yang harus “all-out” lawan Ceko di partai terakhirnya. Selain itu Kroasia tampil dengan 22 pemain yang fit, satu diantaranya defender Dario Knezevic cidera panjang. Sementara Turki, boleh dikata compang-camping, tidak lagi utuh, banyak yang cidera dan kena akumulasi kartu. Tetapi Fatih Terim tetap optimis. “Semua pemain kami adalah singa yang siap main dan berjuang keras di lapangan.”
Pemenang partai ini sudah ditunggu Jerman di semifinal. Dan orang mulai membicarakan partai semifinal Jerman vs Kroasia. Pasar taruhan mengunggulkan Kroasia dan menempatkan Turki sebagai underdog. Tetapi sepakbola selalu punya kejutan, akankah Turki menyingkirkan Kroasia seperti mereka menyikut keluar Ceko? Hanya pluit akhir wasit saja yang bisa menjawab. ***
Pro SINAR HARAPAN
UEFA Euro 2008
Kroasia vs Turki, Sama-Sama Yakin Menang
Oleh : John Halmahera
Slaven Bilic, pelatih Kroasia yang berusia 39 tahun, menaruh respek pada Turki yang akan dihadapinya di stadion Ernst Happel, kota Wina, dini hari nanti. Dia tak menyangka, bahkan fans Turki sendiri pun tak mengira bahwa Nihat Kahveci dalam waktu 3 menit menjelang usai bisa mencetak dua gol dan membalik skor menjadi 3-2 sekaligus mengirim pulang Rep Ceko. Semangat tarung tak kenal menyerah sebelum pluit panjang wasit berbunyi, itulah karakter tim bulan sabit itu.
Kroasia, tim bagus dalam permainan, punya karakter dan spirit tinggi. Kroasia dibangun dengan fondasi beberapa veteran berpengalaman seperti centreback Dortmund berusia 34 tahun, Robert Kovac, dengan 76 caps sebagai pilar pertahanan dan bek kanan Dario Simic dari klub Milan, 33 tahun dengan 99 caps serta gelandang bertahan Salzburg, Niko Kovac, 37 tahun, dengan 79 caps. Kematangan ketiga pilarnya ini membuat Slaven Bilic sangat percaya pada timnya, terutama pola semi-defensifnya, 4-1-3-1-1. Koordinasi pertahanan rapat dan serangan balik cepat inilah yang mengalahkan Jerman 2-1 di Klagenfurt 12 Juni lalu.
Pelatih yang mahir memainkan gitar dan mencari inspirasi strateginya lewat musik, membuat kejutan setelah ditunjuk menjadi pelatih Kroasia usai Piala Dunia 2006. Publik menyebutnya “gila” karena merekrut dua pemain muda Luka Modric (lahir 09-09-1985) dan Vedran Corluka (05-02-1986). Tapi Bilic jalan terus, memainkan keduanya di ujicoba pertamanya lawan Italia di Livorno. Dia tahu persis kapasitas dua pemainnya yang jadi pilar Kroasia U-21 yang ditukanginya waktu itu.
Sekarang ini, Luka Mudric jadi playmaker lini tengah, dan saking gemerlapnya pemain dengan tinggi 174 dan berat 65 kg dengan 28 caps dan 4 gol itu dibeli Tottenham Hotspurs dari klub lamanya Dinamo Zagreb. Begitu juga Vedran Corluka, pemain bertahan dengan 23 caps, bisa di centreback dan juga bek kanan.
Corluka dengan tinggi 193 dan berat 88 kg telah jadi bagian dari skuad inti Manchester City. Keduanya jadi pilihan pertama. Modruc main penuh di 2 pertandingan awal Kroasia. Pada pertandingan terakhir, karena sudah memastikan lolos, Modruc disimpan. Corluka main penuh di 2 pertandingan awal, di pertandingan lawan Polandia masuk menggantikan Dario Knezevic menit 28.
Gebrakan demi gebrakan telah diperlihatkan Slaven Bilic dengan skuadnya itu, menyingkirkan Inggris di stadion Wembley yang angker dalam kualifikasi Euro dan terakhir ini mengalahkan Jerman untuk lolos ke perempatfinal. Dia optimis timnya akan sampai di grandfinal dan meraih gelar juara Euro 2008, gelar pertama untuk negaranya.
Target dan impian Kroasia akan diuji semangat-tarung Turki. Pelatih Fatih Terim
yang sudah kehilangan 4 pilar penting, kiper Volkan Demirel, dua bek Emre Gungor dan Servet Cetin serta kapten Emre Belozoglu, tetap optimis bisa mengalahkan Kroasia.
Dari 3 penampilannya, Turki telah memperlihatkan kemampuannya dan sanggup lolos ke perempatfinal dari grup dimana Portugal, Ceko dan Swiss yang diunggulkan. Turki membuat kejutan, setelah kalah 0-2 dari Portugal mereka mengalahkan Swiss 2-1 dan Ceko 3-2. Fantastis, karena mencetak gol kemenangan di detik terakhir. Lawan Swiss oleh midfield usia 21 tahun, Arda Turan di injury-time. Lawan Ceko, dua gol di 3 menit akhir oleh Nihat Kahveci, sang kapten tim.
Gol-gol seperti ini hanya bisa dicetak oleh tim yang memiliki semangat tinggi, pantang menyerah dan tarung sampai keringat paling penghabisan. Keuletan Turki sudah dibuktikan di Piala Dunia 2002 ketika di semifinal mempersulit Brasil dan mengalahkan tuan rumah Korea dalam perebutan peringkat tiga. Prestasi di Piala Dunia 2002 itu bukan kebetulan, mereka membuktikannya di Euro 2008.
Skuad Fatih “sang kaisar” Terim sangat padu dan mengutamakan strategi pressure dengan merapatkan pertahanan rapat. Mereka main dengan pola defensive 4-2-2-1-1 namun bisa berubah menjadi ofensif 4-3-3 jika situasi membutuhkan. Mereka memainkan sepakbola dengan benar, punya beberapa pemain dengan individual skill mumpuni, beberapa striker dan gelandangnya punya shooting jarak jauh. Mereka bisa memasuki daerah lawan dengan 6 sampai 7 pemain, tetapi bisa bertahan di daerah sendiri dengan 8 sampai 9 pemain berlapis-lapis. Serangan baliknya ampuh.
Slaven Bilic telah mengistirahatkan 9 pemain intinya ketika lawan Polandia sehingga punya waktu istirahat lebih panjang dari Turki yang harus “all-out” lawan Ceko di partai terakhirnya. Selain itu Kroasia tampil dengan 22 pemain yang fit, satu diantaranya defender Dario Knezevic cidera panjang. Sementara Turki, boleh dikata compang-camping, tidak lagi utuh, banyak yang cidera dan kena akumulasi kartu. Tetapi Fatih Terim tetap optimis. “Semua pemain kami adalah singa yang siap main dan berjuang keras di lapangan.”
Pemenang partai ini sudah ditunggu Jerman di semifinal. Dan orang mulai membicarakan partai semifinal Jerman vs Kroasia. Pasar taruhan mengunggulkan Kroasia dan menempatkan Turki sebagai underdog. Tetapi sepakbola selalu punya kejutan, akankah Turki menyingkirkan Kroasia seperti mereka menyikut keluar Ceko? Hanya pluit akhir wasit saja yang bisa menjawab. ***
No comments:
Post a Comment