Piala Eropa 2008 / 24 Juni 2008
Pro : SINAR HARAPAN
Keberuntungan Yang Datang Dan Pergi
Oleh : John Halmahera
Euro 2008 benar-benar panggung drama yang diwarnai berbagai nuansa emosi dan kejutan. Ivan Klasnic yang mencetak gol ke gawang Turki, menit 119 atau 29 menit perpanjangan w aktu, tertawa histeris. Begitu juga semua pemain dan ofisial Kroasia. Fatih Terim dan skuadnya serta supporter Turki terjun bebas ke alam duka. Pertandingan belum usai tetapi kekalahan sudah membayang. “Kita pulang ke Istanbul,” kata mereka, sebagian antaranya sudah menangis. Tak ada lagi harapan. Tak mungkin Turki bisa beruntung lagi seperti ketika menggasak Ceko dengan dua gol di penghujung pertandingan yang membalik skor 1-2 menjadi 3-2 dalam waktu 3 menit.
Slaven Bilic mengingatkan timnya, jangan terbuai euphoria, masih ada sisa waktu, main terus dan bertahan rapat. Dua menit kemudian dalam masa injury-time. Kiper Rustu menendang jauh ke depan. Bola tepat menuju Semih Senturk. Striker klub Fenerbache ini mengontrol dengan dada, bola jatuh ke kakinya, memutar badan, mendorong bola sedikit di celah antara dua pemain Kroasia, dan melepas tembakan sekuat tenaganya. Kiper Stipe Pletikosa yang perkasa, tak sempat bereaksi, hanya bisa menatap bola menerobos pojok kanan atas gawangnya. Gol ! Skor satu-satu !
Hanya selang dua menit emosi berpindah. Tangis duka di kubu Turki kini pindah ke kubu Kroasia. Slaven Bilic, yang sepanjang pertandingan sering berjingkrak kecewa maupun senang, memegang kepalanya menatap tidak percaya ke lapangan. Bagaimana mungkin bisa terjadi, kemenanganyang sudah ditangan tiba-tiba lenyap. Defender Robert Kovac, Vedran Corluka dan Ivan Rakitic terpahna, tak percaya.
Seandainya kehidupan manusia bisa diputar ulang, maka dalam momen kritis itu, Kovac, Corluka atau Rakitic akan membuat pelanggaran, mendorong tubuh Senturk. Tak akan ada pinalti karena masih di luar garis, hanya akan berbuah kartu kuning dan tendangan bebas. Dan mungkin tak akan terjadi gol.
Tetapi hidup tak bisa diulang, hidup harus jalan terus. Nasib Kroasia sudah ditentukan saat itu. Wasit meniup pluit panjang. Giliran adu pinalti, pemain Kroasia masih dalam karut-marut emosi, Luka Modric bintang playmaker yang mengirim umpan matang ke Klasnic membuahkan gol Kroasia, menendang ngawur. Pinalti pertama itu gagal, dan seterusnya. Kroasia kalah! Turki menang!
Gol Semih Senturk itu keberuntungan. Tetapi Senturk juga punya kualitas. Kerjasama tim Turki juga terbilang solid, buktinya Kroasia yang bisa mengalahkan Jerman 2-1 tak mampu mengalahkan skuad Fatih Terim dalam waktu normal. Turki bahkan bisa menaklukkan Swiss dan Ceko setelah sebelumnya kalah dari Portugal.
Euro 2008 di mata sebagian pengamat adalah kompetisi yang sangat kompetitif, beda kualitas satu tim dengan yang lain, sangat tipis. Di grup A dua tim diunggulkan Portugal dan Ceko untuk lolos. Unggulan ketiga Swiss. Portugal juara grup. Tapi Ceko terpental, dan Turki jadi runner-up. Di grup B Jerman dan Kroasia bisa mengatasi Polandia dan Austria. Ramalan sesuai tetapi tidak persis 100 persen. Karena Jerman hanya runner-up dibawah Kroasia. Di grup C, grup neraka, Italia Prancis diunggulkan. Ternyata Belanda menekuk Italia 3-0 dan Prancis 4-1. Italia lolos dari lubang jarum, setelah menang 2-0 atas Prancis, Belanda juara grup, disusul Italia sebagai runner-up, Prancis dan Rumania out.
Di babak perempatfinal kejutan juga terjadi. Di Basel terjadi laga premature Jerman versus Portugal. Seharusnya ketemu di semifinal, tetapi lantaran Jerman kalah dari Kroasia dan jadi runnerup grup B, maka terjadilah “clash dead or alive” antara dua tim kelas dunia itu. Jerman yang survive setelah tampil nyaris sempurna. Portugal kembali mengalami kekalahan dan merasa tidak dinaungi keberuntungan.
Di Wina, Turki yang disebut-sebut pelatihnya Fatih Terim sebagai kumpulan “singa” yang tak kenal menyerah, mengirim pulang pasukan Slaven Bilic yang sudah memikat banyak orang karena penampilan sepakbola atraktif dan ofensifnya itu. Partai ini sangat dramatis, dibanding 3 partai knock-out lainnya. Tidak hanya 2 gol di penghujung perpanjangan waktu tetapi juga diselesaikan dengan adu pinalti yang memicu laju adrenalin dan debar jantung para supporter kedua tim.
Kejutan terjadi di stadion Jakob-Park. Puluhan ribu sopporter Belanda membanjiri kota Basel. Dimana-mana lautan oranye, mereka ingin menyaksikan timnya tak cuma mengalahkan Russia hari Sabtu itu tapi juga ingin menjadi saksi sejarah perjalanan Oranye meraih gelar juara Eropa. Bagaimana mereka tidak optimis? Pasukan Van Basten itu telah menghajar dua tim kelas dunia, Italia 3-0 dan Prancis 4-1, kemudian dengan skuad cadangan mengalahkan Rumania 2-0.
Ruud van Nistelrooy dkk punya skill hebat, kerjasama tim juga “ciamik”. Dan Belanda juga didatangi keberuntungan. Tetapi bukan Belanda di kubu Oranye, tetapi keberuntungan datang pada Guus Hiddink, orang Belanda yang jadi arsitek tim Russia. Orang Beanda itulah yang membangkitkan tim Beruang Merah dari keterpurukan ditekuk Spanyol 1-4 sampai akhirnya menyingkirkan Belanda yang dijagoi dipasar tarohan.
Di Wina kejutan kedua terjadi setelah sebelumnya Turki mengalahkan Kroasia. Tetapi kejutan hanya terjadi sepihak, yakni di kubu pendukung azzurri. Sepanjang sejarah turnamen besar, Italia selalu menang dari Spanyol. Lautan biru siap merayakan rayakan kemenangan. Tetapi tim matador tampil lebih trengginas. Italia sungguh beruntung tidak kalah. Namun keberuntungan itu pindah ke Spanyol. Drama adu pinalti dimenangkan skuad Luis Aragones, terimakasih kepada kiper Real Madrid, Iker Casillas.
Ternyata untuk memenangkan satu pertandingan dibutuhkan skill individu pemain yang diatas rata-rata, strategi pelatih dan kerjasama tim, serta yang tak kalah pentingnya, keberuntungan! Sekarang di Euro 2008 tersisa 4 tim di semifinal. Jerman versus Turki di Basel, kota dimana tim Joachim Low menyingkirkan Portugal. Di Basel ini juga skuad Turki menghantam tuan rumah Swiss 2-1. Semifinal berikutnya, Russia lawan Spanyol di Wina, kota dimana underdog Turki menyingkirkan Kroasia yang lebih super. Nah, kira-kira siapa diantara empat tim ini yang lebih beruntung, kita tunggu saja. ***
Pro : SINAR HARAPAN
Keberuntungan Yang Datang Dan Pergi
Oleh : John Halmahera
Euro 2008 benar-benar panggung drama yang diwarnai berbagai nuansa emosi dan kejutan. Ivan Klasnic yang mencetak gol ke gawang Turki, menit 119 atau 29 menit perpanjangan w aktu, tertawa histeris. Begitu juga semua pemain dan ofisial Kroasia. Fatih Terim dan skuadnya serta supporter Turki terjun bebas ke alam duka. Pertandingan belum usai tetapi kekalahan sudah membayang. “Kita pulang ke Istanbul,” kata mereka, sebagian antaranya sudah menangis. Tak ada lagi harapan. Tak mungkin Turki bisa beruntung lagi seperti ketika menggasak Ceko dengan dua gol di penghujung pertandingan yang membalik skor 1-2 menjadi 3-2 dalam waktu 3 menit.
Slaven Bilic mengingatkan timnya, jangan terbuai euphoria, masih ada sisa waktu, main terus dan bertahan rapat. Dua menit kemudian dalam masa injury-time. Kiper Rustu menendang jauh ke depan. Bola tepat menuju Semih Senturk. Striker klub Fenerbache ini mengontrol dengan dada, bola jatuh ke kakinya, memutar badan, mendorong bola sedikit di celah antara dua pemain Kroasia, dan melepas tembakan sekuat tenaganya. Kiper Stipe Pletikosa yang perkasa, tak sempat bereaksi, hanya bisa menatap bola menerobos pojok kanan atas gawangnya. Gol ! Skor satu-satu !
Hanya selang dua menit emosi berpindah. Tangis duka di kubu Turki kini pindah ke kubu Kroasia. Slaven Bilic, yang sepanjang pertandingan sering berjingkrak kecewa maupun senang, memegang kepalanya menatap tidak percaya ke lapangan. Bagaimana mungkin bisa terjadi, kemenanganyang sudah ditangan tiba-tiba lenyap. Defender Robert Kovac, Vedran Corluka dan Ivan Rakitic terpahna, tak percaya.
Seandainya kehidupan manusia bisa diputar ulang, maka dalam momen kritis itu, Kovac, Corluka atau Rakitic akan membuat pelanggaran, mendorong tubuh Senturk. Tak akan ada pinalti karena masih di luar garis, hanya akan berbuah kartu kuning dan tendangan bebas. Dan mungkin tak akan terjadi gol.
Tetapi hidup tak bisa diulang, hidup harus jalan terus. Nasib Kroasia sudah ditentukan saat itu. Wasit meniup pluit panjang. Giliran adu pinalti, pemain Kroasia masih dalam karut-marut emosi, Luka Modric bintang playmaker yang mengirim umpan matang ke Klasnic membuahkan gol Kroasia, menendang ngawur. Pinalti pertama itu gagal, dan seterusnya. Kroasia kalah! Turki menang!
Gol Semih Senturk itu keberuntungan. Tetapi Senturk juga punya kualitas. Kerjasama tim Turki juga terbilang solid, buktinya Kroasia yang bisa mengalahkan Jerman 2-1 tak mampu mengalahkan skuad Fatih Terim dalam waktu normal. Turki bahkan bisa menaklukkan Swiss dan Ceko setelah sebelumnya kalah dari Portugal.
Euro 2008 di mata sebagian pengamat adalah kompetisi yang sangat kompetitif, beda kualitas satu tim dengan yang lain, sangat tipis. Di grup A dua tim diunggulkan Portugal dan Ceko untuk lolos. Unggulan ketiga Swiss. Portugal juara grup. Tapi Ceko terpental, dan Turki jadi runner-up. Di grup B Jerman dan Kroasia bisa mengatasi Polandia dan Austria. Ramalan sesuai tetapi tidak persis 100 persen. Karena Jerman hanya runner-up dibawah Kroasia. Di grup C, grup neraka, Italia Prancis diunggulkan. Ternyata Belanda menekuk Italia 3-0 dan Prancis 4-1. Italia lolos dari lubang jarum, setelah menang 2-0 atas Prancis, Belanda juara grup, disusul Italia sebagai runner-up, Prancis dan Rumania out.
Di babak perempatfinal kejutan juga terjadi. Di Basel terjadi laga premature Jerman versus Portugal. Seharusnya ketemu di semifinal, tetapi lantaran Jerman kalah dari Kroasia dan jadi runnerup grup B, maka terjadilah “clash dead or alive” antara dua tim kelas dunia itu. Jerman yang survive setelah tampil nyaris sempurna. Portugal kembali mengalami kekalahan dan merasa tidak dinaungi keberuntungan.
Di Wina, Turki yang disebut-sebut pelatihnya Fatih Terim sebagai kumpulan “singa” yang tak kenal menyerah, mengirim pulang pasukan Slaven Bilic yang sudah memikat banyak orang karena penampilan sepakbola atraktif dan ofensifnya itu. Partai ini sangat dramatis, dibanding 3 partai knock-out lainnya. Tidak hanya 2 gol di penghujung perpanjangan waktu tetapi juga diselesaikan dengan adu pinalti yang memicu laju adrenalin dan debar jantung para supporter kedua tim.
Kejutan terjadi di stadion Jakob-Park. Puluhan ribu sopporter Belanda membanjiri kota Basel. Dimana-mana lautan oranye, mereka ingin menyaksikan timnya tak cuma mengalahkan Russia hari Sabtu itu tapi juga ingin menjadi saksi sejarah perjalanan Oranye meraih gelar juara Eropa. Bagaimana mereka tidak optimis? Pasukan Van Basten itu telah menghajar dua tim kelas dunia, Italia 3-0 dan Prancis 4-1, kemudian dengan skuad cadangan mengalahkan Rumania 2-0.
Ruud van Nistelrooy dkk punya skill hebat, kerjasama tim juga “ciamik”. Dan Belanda juga didatangi keberuntungan. Tetapi bukan Belanda di kubu Oranye, tetapi keberuntungan datang pada Guus Hiddink, orang Belanda yang jadi arsitek tim Russia. Orang Beanda itulah yang membangkitkan tim Beruang Merah dari keterpurukan ditekuk Spanyol 1-4 sampai akhirnya menyingkirkan Belanda yang dijagoi dipasar tarohan.
Di Wina kejutan kedua terjadi setelah sebelumnya Turki mengalahkan Kroasia. Tetapi kejutan hanya terjadi sepihak, yakni di kubu pendukung azzurri. Sepanjang sejarah turnamen besar, Italia selalu menang dari Spanyol. Lautan biru siap merayakan rayakan kemenangan. Tetapi tim matador tampil lebih trengginas. Italia sungguh beruntung tidak kalah. Namun keberuntungan itu pindah ke Spanyol. Drama adu pinalti dimenangkan skuad Luis Aragones, terimakasih kepada kiper Real Madrid, Iker Casillas.
Ternyata untuk memenangkan satu pertandingan dibutuhkan skill individu pemain yang diatas rata-rata, strategi pelatih dan kerjasama tim, serta yang tak kalah pentingnya, keberuntungan! Sekarang di Euro 2008 tersisa 4 tim di semifinal. Jerman versus Turki di Basel, kota dimana tim Joachim Low menyingkirkan Portugal. Di Basel ini juga skuad Turki menghantam tuan rumah Swiss 2-1. Semifinal berikutnya, Russia lawan Spanyol di Wina, kota dimana underdog Turki menyingkirkan Kroasia yang lebih super. Nah, kira-kira siapa diantara empat tim ini yang lebih beruntung, kita tunggu saja. ***
No comments:
Post a Comment