Tuesday, June 17, 2008

Piala Eropa 2008 : Italia vs Prancis

Piala Eropa 17 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Prancis vs Italia “Dead Or Alive”

Oleh : John Halmahera

Semua laga pada matchday grup yang terakhir berlangsung serentak pada jam yang sama di dua tempat. Italia versus Perancis di Zurich, Belanda kontra Rumania di Berne, pada jam yang sama 20.45 waktu setempat atau dini hari 01.45 WIB. Tetapi dua raksasa Eropa, Italia dan Perancis, tidak lolos ke perempat final jika Belanda kalah dari Rumania. Dan Oranye bisa saja kalah, apalagi jika menurunkan line-up lapis kedua dan main setengah hati. Sebab motivasi skuad van Basten mungkin tak lagi menggebu karena sudah memastikan diri lolos dengan dua kemenangan atas Italia 3-0 dan Perancis 4-1. Kemungkinan inilah yang ditakuti Roberto Donadoni dan Raymond Domenech.
Tetapi saya pikir baik Italia maupun Perancis tak akan memikirkan kemungkinan itu. Mereka akan konsentrasi dan fokus pada laganya sendiri. Flash-back ke stadion Feyenoord Rotterdam tanggal 2 Juli di grand-final Euro 2000, dalam perpanjangan waktu Italia kalah 1-2 dari Perancis. Itu 8 tahun lalu, meski tidak ada hubungan langsung dengan hari ini, namun memori sejarah pasti menumbuhkan motivasi dan semangat mereka. Perancis ingin membalas kekalahan di final Piala Dunia 2006, dilain pihak skuad Donadoni ingin revanche final Euro 2000.
Prancis masih terus bebenah. Domenech pusing, seperti juga Donadoni. Setelah penampilan buruk lawan Rumania, draw tanpa gol, Domenech mengganti 3 pemain starter XI, Eric Abidal, Karim Benzema dan Nicolas Anelka yang pada menit 75 masuk menggantikan Sidney Govou. Pemain baru yang masuk, Patrice Evra, Sidney Govou dan striker yang ditunggu-tunggu publik, Thierry Henry. Ternyata perubahan itu tidak menolong, Perancis tetap saja tanpa inspirasi dan determinasi. Hadirnya Thierry Henry hanya sebatas mencetak gol balasan 1-2 ke gawang Van Der Sar selebihnya dia mentok ditahan Khalid Boulahrouz atau Joris Mathijsen. Prancis pun kalah telak 1-4 dari Belanda, kekalahan memalukan yang memancing kemarahan pers Prancis.
Bagaimana dengan azzurri? Kekalahan memalukan 0-3 dari Belanda memaksa Donadoni merombak starter XI. Lima pemain tergusur, Barzagli, Gatusso, Di Natale, Materazzi dan Massimo Ambrosini yang menit 85 masuk menggantikan Camoranesi. Lima yang baru di starter XI adalah Chiellini, Grosso, De Rossi, Perrotta, dan Del Piero.
Juga tidak menolong banyak. Pertahanan Rumania sulit ditembus. Italia juga tidak beruntung, gol Luca Tony ke gawang Rumania dianulir. Belakangan wasit Norwegia,
Tom Henning Ovrebo mengaku salah, gol itu sah, Tony dalam posisi onside. Tetapi pengakuan itu tidak mengubah sesuatu kecuali menambah kepercayaan diri Luca Tony.
Prancis bukan lagi les blues semasih diperkuat superstar Zinedine Zidane yang membawa tropi juara Piala Dunia 1998 dan juara Euro 2000. Seperti juga ketika menjuarai Euro 1984, yang mana superstar Michel Platini menjadi pemeran utama sukses besar les blues. Kini Prancis tak punya lagi superstar sekelas Platini dan Zidane. Seandai Patrick Vieira fit dan bisa tampil, pun tidak akan sehebat dua pendahulunya itu.
Selain itu, beberapa pilar utamanya berusia diatas 30-an, Lilian Thuram, William Gallas, dan Claude Makelele yang menjadi tulang punggung pertahanan. Menghadapi Belanda, mereka masih bisa membantu menyerang selama 10 menit pertama, setelah itu mereka kedodoran diajak lari “young guns”nya Van Basten seperti Sneijder, Van Persie, Robben, van der Vaart.
Prancis meleng. Pasca era Zidane, mereka lalai. Terlambat regenerasi. Domenech masih terbius dengan nama besar Makelele Cs, dia tak berani berinovasi merekrut “young guns” seperti revolusi yang dilakukan Marco van Basten, Luis Aragones, Slaven Bilic, Juergen Klinsmann yang kini diterusin Joachim Low. Kalaupun Prancis lolos dan bahkan menjuarai Euro 2008, tak lain hanya keajaiban seperti hasil Yunani empat tahun lalu.
Italia tidak lebih baik dari Prancis. Roberto Donadoni datang membawa skuad jawara dunia 2006, kecuali Fabio Carnavaro yang cidera. Kualitas pemain semuanya mumpuni, kelas dunia, seperti juga Prancis. Kualitas prima. Tetapi Donadoni bukan Marcello Lippi yang punya seabrek gelar di kantongnya. Lippi disegani karena pengalaman dan prestasinya. Donadoni tidak. Sementara pemain sama semua. Satu pertanyaan sederhana, apakah Roberto Donadoni bisa bergaya seperti Lippi?
Kalaupun Italia lolos dan keluar sebagai juara, seperti juga Prancis, itu keajaiban semata. Sepakbola memang penuh keajaiban, terkadang keajaiban mengalahkan logika. Tetapi pers tidak pernah mau bergantung pada keajaiban. Pers, publik dan pasar tarohan menghitung dari semua aspek dan menempatkan “keajaiban” di alam mimpi.
Duel Italia versus Prancis akan ketat, seru dan menegangkan serta panas. Ini tak hanya mempertaruhkan gengsi, juga mati hidup. Keduanya “mati” jika Rumania menang atas Belanda. Salah satu “mati” jika Belanda menang atau draw. Tetapi yang “hidup” harus menjalani partai “neraka”. Siapa pun yang menang, akan compang-camping ibarat baru bangkit dari “kubur”.
Italia ingin revanche final Euro 2000 dan melestarikan kemenangan final Germany 2006. Prancis ingin membalas perbuatan memalukan Materazzi terhadap Zidane yang mengakibatkan superstar les blues itu diganjar kartu merah dan Prancis kalah di final Germany 2006. Partai yang sarat gengsi dan dendam. Rasanya tak perlu lagi Donadoni dan Domenech mengintip hasil Belanda versus Rumania, tuntaskan saja laga “dead or alive” itu. Jika hasilnya draw, peluang draw sangat besar, karena selisih gol sama yakni 1-4, akan ada perpanjangan waktu dan adu pinalti. Pokoknya satu tim “dead” satunya lagi “alive”. Italia mungkin bisa menang, tapi peluangnya tipis, sangat tipis. ***


No comments: