Artikel Piala Eropa 05/30 Mei 2008
Pro SINAR HARAPAN
UEFA Euro 2008
Spanyol, 44 Tahun Haus Gelar Eropa
Oleh : John Halmahera
Betapa ironis bahwa kompetisi La Liga yang begitu gemerlap dan sarat bintang mahal namun tim matador tidak pernah lagi mengecap juara Euro sejak tahun 1964. Dua klub teras Spanyol, Real Madrid dan Barcelona bisa malang melintang di Champions league namun para bintang klub besar itu tak sanggup memberi kontribusi demi tercapainya gelar idaman itu. Bahkan ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia Epana’82, tim matador pun gagal juara, bahkan mencapai final pun tidak. Selama itu hanya satu kali juara eropa yang dicapai tim matador, dan itu sudah 44 tahun silam.
Seperti biasa, menjelang memasuki turnamen akbar, Spanyol akan berkoar optimis memenangkan gelar. Namun selalu, penyakit kronis itu muncul, gagal di putaran final. Agaknya, sejarah prestasi selalu berulang, hebat dan cemerlang di kualifikasi namun rontok di putaran final. Padahal Spanyol selalu diperkuat pemain kualitas unggul dengan bandrol harga yang tinggi di pasaran Eropa. Sekarang pun sama halnya, tim asuhan Luis Aragones ini datang dengan seabrek pemain mahal.
Ketika menang 1-0 atas Irlandia Utara dalam partai terakhirnya di kualifikasi Euro 2008 dan memastikan timnya lolos sebagai juara grup, pelatih Luis Aragones berkomentar. “Spanyol lolos ke putaran final turnamen, sudah sering. Ini bukanlah sukses tetapi kami hanya menjalani dan menyelesaikan tugas.”
Aragones menganggap lolos babak kualifikasi hanya soal sederhana. Begitu memasuki Austria/Switzerland urusan menjadi serius. Di grup D Spanyol bergabung dengan dua mantan juara lain, Yunani sang juara bertahan dan Russia juara 1960 serta Swedia. Tiga tim lawan ini patut disegani meski di atas kertas, tim matador masih diunggulkan. Lihat ranking FIFA terbitan Mei 2008. Di kawasan Eropa, Spanyol nomor 2 dibawah Italia. Juara bertahan Yunani ranking 6, Swedia 15 dan Russia 17. Dalam ranking dunia FIFA, Italia nomor 3, Spanyol 4, Yunani 8, Swedia 23 dan Russia 25. Khusus turnamen Euro, Spanyol punya rekor lebih dibanding negara lain, 122 kali tampil dengan 13 menang, 24 draw, 26 kalah, selisih gol 260 minus 108 gol.
Kalau sepakbola dimainkan di atas meja, komputer dan kertas, mestinya Spanyol akan keluar sebagai juara grup D diikuti Yunani. Bahkan untuk menentukan juara Eropa, hanya perlu memainkan final antara Italia urutan 1 dan Spanyol urutan 2. Sayangnya sepakbola harus dimainkan di lapangan rumput. Sehingga untuk menggapai gelar bergengsi itu –raja Eropa- harus diselesaikan lewat keringat, biaya dan strategi.
Bagi Spanyol, undian grup kali ini tidak menguntungkan. Bersaing dengan tiga rivalnya di grup D mungkin peluang lolos Spanyol cukup besar. Tetapi memasuki babak 8 Besar, pertarungan sesungguhnya akan terjadi dalam sistem “knock-down”. Hasil juara atau runner-up grup, Spanyol akan berhadapan dengan juara atau runner-up grup C yakni salah satu diantara Italia, Perancis, Belanda dan Rumania.
Luis Aragones, pelatih kelahiran Hortaleza, Madrid, 70 tahun silam, masih tua-tua keladi, karakter keras dengan pendirian teguh. Dia bergeming sedikit pun menghadapi kritik dan kecaman pers. Dia pernah mundur, tetapi kembali menangani tim setelah dibujuk Federasi-nya. Sebagai pemain dia dijuluki “zapatones” (big boots alias sepatu besar) lantaran produktif mencetak gol semasa memperkuat Atletico Madrid di era 1964.
Mundur dari pemain, tahun 1974 memulai karir sebagai pelatih. Terkenal temperamen. Banyak asam garam di klub, dia membawa tim matador lolos kualifikasi Germany 2006 tanpa terkalahkan. Di Jerman, Aragones membawa timnya juara grup namun kandas di babak 16 besar oleh Perancis 1-3. Pengalaman pahit baginya.
Titik lemah tim Matador asuhan Aragones, adalah kurang solidnya pertahanan dibanding kualitas menyerang. Kelemahan ini sering dimanfaatkan lawan dengan serangan balik yang ekstra cepat. Hal ini tampaknya akan menjadi perhatian pelatih berusia 70 tahun itu. Dibawah mistar meskipun ada kiper Liverpool, Pepe Reina namun kipper Real Madrid, Iker Casillas lebih diutamakan. Aragones akan memasang rekan seklub Casillas, Sergio Ramos di bek kanan sebagai attacking-full-back dan Joan Capdevilla dari Villarreal di kiri. Di centre-back Carlos Marchena dari Valencia akan mendampingi kapten Barcelona Carlos Puyol.
Lini tengah juga diisi pemain karakter serang yang kuat. Bintang Valencia, David Albelda berfungsi sebagai jangkar bertahan, Xavi Hernandez dari Barcelona dan bintang cemerlang Arsenal Cesc Fabregas diberi keleluasaan dan kebebasan berkreasi dan memasok umpan ke depan yang mungkin diisi striker tunggal atau ganda. Sementara bintang Barcelona lainnya, Andres Iniesta akan beroperasi dari sayap kanan atau kiri atau pun dari tengah. Lini depan, pilihan utama mungkin Fernando Torres yang belakangan ini jadi produktif di premier league lewat gol-golnya untuk Liverpool. Pilihan lain adalah David Villa dari Valencia.
Tidak dipanggilnya striker senior Real Madrid, Raul Gonzalez, cukup kejutan, Namun bukanlah dia Luis Aragones jika tidak membuat keputusan yang mendatangkan pro dan kontra. Pemain muda belia 17 tahun dari Bacelona, Bojan Krkic, juga harus absen, dia minta ijin pada pelatih tua itu untuk tidak masuk skuad karena jenuh dan letih mengikuti kompetisi yang padat. Pemanggilan 23 pemain yang diumumkan Aragones sudah disesuaikan dengan pola kegemarannya 4-4-2 atau 4-5-1.
Luis Aragones yakin dan percaya pada skuadnya memenangkan gelar yang sudah 44 tahun tak pernah dicicipi negerinya. Kejutan yang dibuatnya, tidak memanggil Raul Gonzalez tetapi merekrut dua pemain tanpa caps, Santiago Cazorla dan Sergio Garcia. Hanya pers dan publik tak mendesak Aragones karena punya dasar kuat.
Sergio Garcia, penyerang Real Zaragoza, hanya mencetak 4 gol namun memberi banyak kontribusi pada klubnya sepanjang 36 penampilannya di la liga. Sedang Cazorla sangat berperan di lini tengah Villarreal dan membawa klubnya runner-up musim ini. Dia tampil sebanyak 34 pertandingan musim ini. “Aku memilih pemain setelah mengamati penampilan mereka dalam banyak pertandingan,”katanya. “Aku sendiri yang memilih yang baik atau yang buruk, aku harus memilih, dan aku telah memilih!”
Raul Gonzalez telah mencetak 18 gol musim ini membantu Real Madrid juara dengan 102 caps di tim matador. Dia mencetak 44 gol untuk Spanyol dalam berbagai event. “Bukan masalahnya, mencetak berapa gol atau seberapa hebat prestasi klubnya karena di luar sana ada pemain yang berprestasi sebaik itu, namun tidak saya panggil,” kata Aragones yang juga tidak memanggil pasangan penyerang Valencia David Albelda dan Joaquin Sanchez.
Aragones telah memilih. Dia pun telah mempersiapkan skuadnya. Tantangan pertama akan dihadapinya hari Selasa 10 Juni di stadion Tivoli Neu, kota Innsbruck jam 18.00 menghadapi tim beruang merah Russia. Berikutnya, hari Sabtu 14 Juni di stadion yang sama, menjajal kekuatan Swedia. Partai terakhir grup D dimainkan Rabu 18 Juni di stadion Wals-Siezenheim, kota Salzburg. Pelatih berusia70 tahun itu setengah bergurau berkomentar. “Tentu saja akan mudah bagi kami, yang kami perlukan hanyalah mengalahkan semua lawan kita. Saya bukan juru-ramal tetapi saya ingin menyampaikan pesan bahwa kami punya kemampuan memenangkan gelar juara.” ***
Pro SINAR HARAPAN
UEFA Euro 2008
Spanyol, 44 Tahun Haus Gelar Eropa
Oleh : John Halmahera
Betapa ironis bahwa kompetisi La Liga yang begitu gemerlap dan sarat bintang mahal namun tim matador tidak pernah lagi mengecap juara Euro sejak tahun 1964. Dua klub teras Spanyol, Real Madrid dan Barcelona bisa malang melintang di Champions league namun para bintang klub besar itu tak sanggup memberi kontribusi demi tercapainya gelar idaman itu. Bahkan ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia Epana’82, tim matador pun gagal juara, bahkan mencapai final pun tidak. Selama itu hanya satu kali juara eropa yang dicapai tim matador, dan itu sudah 44 tahun silam.
Seperti biasa, menjelang memasuki turnamen akbar, Spanyol akan berkoar optimis memenangkan gelar. Namun selalu, penyakit kronis itu muncul, gagal di putaran final. Agaknya, sejarah prestasi selalu berulang, hebat dan cemerlang di kualifikasi namun rontok di putaran final. Padahal Spanyol selalu diperkuat pemain kualitas unggul dengan bandrol harga yang tinggi di pasaran Eropa. Sekarang pun sama halnya, tim asuhan Luis Aragones ini datang dengan seabrek pemain mahal.
Ketika menang 1-0 atas Irlandia Utara dalam partai terakhirnya di kualifikasi Euro 2008 dan memastikan timnya lolos sebagai juara grup, pelatih Luis Aragones berkomentar. “Spanyol lolos ke putaran final turnamen, sudah sering. Ini bukanlah sukses tetapi kami hanya menjalani dan menyelesaikan tugas.”
Aragones menganggap lolos babak kualifikasi hanya soal sederhana. Begitu memasuki Austria/Switzerland urusan menjadi serius. Di grup D Spanyol bergabung dengan dua mantan juara lain, Yunani sang juara bertahan dan Russia juara 1960 serta Swedia. Tiga tim lawan ini patut disegani meski di atas kertas, tim matador masih diunggulkan. Lihat ranking FIFA terbitan Mei 2008. Di kawasan Eropa, Spanyol nomor 2 dibawah Italia. Juara bertahan Yunani ranking 6, Swedia 15 dan Russia 17. Dalam ranking dunia FIFA, Italia nomor 3, Spanyol 4, Yunani 8, Swedia 23 dan Russia 25. Khusus turnamen Euro, Spanyol punya rekor lebih dibanding negara lain, 122 kali tampil dengan 13 menang, 24 draw, 26 kalah, selisih gol 260 minus 108 gol.
Kalau sepakbola dimainkan di atas meja, komputer dan kertas, mestinya Spanyol akan keluar sebagai juara grup D diikuti Yunani. Bahkan untuk menentukan juara Eropa, hanya perlu memainkan final antara Italia urutan 1 dan Spanyol urutan 2. Sayangnya sepakbola harus dimainkan di lapangan rumput. Sehingga untuk menggapai gelar bergengsi itu –raja Eropa- harus diselesaikan lewat keringat, biaya dan strategi.
Bagi Spanyol, undian grup kali ini tidak menguntungkan. Bersaing dengan tiga rivalnya di grup D mungkin peluang lolos Spanyol cukup besar. Tetapi memasuki babak 8 Besar, pertarungan sesungguhnya akan terjadi dalam sistem “knock-down”. Hasil juara atau runner-up grup, Spanyol akan berhadapan dengan juara atau runner-up grup C yakni salah satu diantara Italia, Perancis, Belanda dan Rumania.
Luis Aragones, pelatih kelahiran Hortaleza, Madrid, 70 tahun silam, masih tua-tua keladi, karakter keras dengan pendirian teguh. Dia bergeming sedikit pun menghadapi kritik dan kecaman pers. Dia pernah mundur, tetapi kembali menangani tim setelah dibujuk Federasi-nya. Sebagai pemain dia dijuluki “zapatones” (big boots alias sepatu besar) lantaran produktif mencetak gol semasa memperkuat Atletico Madrid di era 1964.
Mundur dari pemain, tahun 1974 memulai karir sebagai pelatih. Terkenal temperamen. Banyak asam garam di klub, dia membawa tim matador lolos kualifikasi Germany 2006 tanpa terkalahkan. Di Jerman, Aragones membawa timnya juara grup namun kandas di babak 16 besar oleh Perancis 1-3. Pengalaman pahit baginya.
Titik lemah tim Matador asuhan Aragones, adalah kurang solidnya pertahanan dibanding kualitas menyerang. Kelemahan ini sering dimanfaatkan lawan dengan serangan balik yang ekstra cepat. Hal ini tampaknya akan menjadi perhatian pelatih berusia 70 tahun itu. Dibawah mistar meskipun ada kiper Liverpool, Pepe Reina namun kipper Real Madrid, Iker Casillas lebih diutamakan. Aragones akan memasang rekan seklub Casillas, Sergio Ramos di bek kanan sebagai attacking-full-back dan Joan Capdevilla dari Villarreal di kiri. Di centre-back Carlos Marchena dari Valencia akan mendampingi kapten Barcelona Carlos Puyol.
Lini tengah juga diisi pemain karakter serang yang kuat. Bintang Valencia, David Albelda berfungsi sebagai jangkar bertahan, Xavi Hernandez dari Barcelona dan bintang cemerlang Arsenal Cesc Fabregas diberi keleluasaan dan kebebasan berkreasi dan memasok umpan ke depan yang mungkin diisi striker tunggal atau ganda. Sementara bintang Barcelona lainnya, Andres Iniesta akan beroperasi dari sayap kanan atau kiri atau pun dari tengah. Lini depan, pilihan utama mungkin Fernando Torres yang belakangan ini jadi produktif di premier league lewat gol-golnya untuk Liverpool. Pilihan lain adalah David Villa dari Valencia.
Tidak dipanggilnya striker senior Real Madrid, Raul Gonzalez, cukup kejutan, Namun bukanlah dia Luis Aragones jika tidak membuat keputusan yang mendatangkan pro dan kontra. Pemain muda belia 17 tahun dari Bacelona, Bojan Krkic, juga harus absen, dia minta ijin pada pelatih tua itu untuk tidak masuk skuad karena jenuh dan letih mengikuti kompetisi yang padat. Pemanggilan 23 pemain yang diumumkan Aragones sudah disesuaikan dengan pola kegemarannya 4-4-2 atau 4-5-1.
Luis Aragones yakin dan percaya pada skuadnya memenangkan gelar yang sudah 44 tahun tak pernah dicicipi negerinya. Kejutan yang dibuatnya, tidak memanggil Raul Gonzalez tetapi merekrut dua pemain tanpa caps, Santiago Cazorla dan Sergio Garcia. Hanya pers dan publik tak mendesak Aragones karena punya dasar kuat.
Sergio Garcia, penyerang Real Zaragoza, hanya mencetak 4 gol namun memberi banyak kontribusi pada klubnya sepanjang 36 penampilannya di la liga. Sedang Cazorla sangat berperan di lini tengah Villarreal dan membawa klubnya runner-up musim ini. Dia tampil sebanyak 34 pertandingan musim ini. “Aku memilih pemain setelah mengamati penampilan mereka dalam banyak pertandingan,”katanya. “Aku sendiri yang memilih yang baik atau yang buruk, aku harus memilih, dan aku telah memilih!”
Raul Gonzalez telah mencetak 18 gol musim ini membantu Real Madrid juara dengan 102 caps di tim matador. Dia mencetak 44 gol untuk Spanyol dalam berbagai event. “Bukan masalahnya, mencetak berapa gol atau seberapa hebat prestasi klubnya karena di luar sana ada pemain yang berprestasi sebaik itu, namun tidak saya panggil,” kata Aragones yang juga tidak memanggil pasangan penyerang Valencia David Albelda dan Joaquin Sanchez.
Aragones telah memilih. Dia pun telah mempersiapkan skuadnya. Tantangan pertama akan dihadapinya hari Selasa 10 Juni di stadion Tivoli Neu, kota Innsbruck jam 18.00 menghadapi tim beruang merah Russia. Berikutnya, hari Sabtu 14 Juni di stadion yang sama, menjajal kekuatan Swedia. Partai terakhir grup D dimainkan Rabu 18 Juni di stadion Wals-Siezenheim, kota Salzburg. Pelatih berusia70 tahun itu setengah bergurau berkomentar. “Tentu saja akan mudah bagi kami, yang kami perlukan hanyalah mengalahkan semua lawan kita. Saya bukan juru-ramal tetapi saya ingin menyampaikan pesan bahwa kami punya kemampuan memenangkan gelar juara.” ***
No comments:
Post a Comment