Tuesday, June 17, 2008

Piala Eropa 2008 : Austria vs Jerman

Artikel Piala Eropa 16 Juni 2008
Pro SINAR HARAPAN

UEFA Euro 2008
Panasnya Cordoba’78 dan Wina’31

Oleh : John Halmahera

Sudah selayaknya seantero negeri Polandia mengutuk keputusan kontroversial wasit Howard Webb yang menghukum pinalti Polandia. Pinalti yang dieksekusi Ivica Vasic di masa injury-time itu tidak hanya merampok kemenangan skuad Leo Beenhakker juga mempersempit peluang lolos ke perempatfinal. Pasalnya, hari itu Jerman main lebih awal dan dikalahkan Kroasia. Sehingga jika skor tetap 1-0 dan di hari terakhir Polandia menang atas Kroasia sementara Jerman ditahan draw Austria, maka Polandia lolos.
Ulah Webb itu mengubah konstelasi peluang di grup B. Situasi kini sangat tidak menguntungkan Polandia, sebaliknya membuka peluang lolos bagi Jerman dan Austria. Jika Jerman hanya mendapat nilai draw lawan Austria, maka untuk lolos Polandia harus menang minimal dua gol atas Kroasia. Jika Jerman menang, otomatis lolos. Jika Jerman kalah, maka Austria yang lolos dengan catatan Polandia hanya menang tipis atas Kroasia.
Joachim Low dan skuadnya tahu persis posisi timnya. Kekalahan dari Kroasia dialami Jerman karena mereka main tidak sebagaimana tim panser. Passing tidak akurat. Tidak melakukan pressure pada lawan. Tidak memainkan one-touch-football yang cepat, akurat dan langsung ke tujuan. Michael Ballack Cs main seperti bukan ciri Jerman malah sebaliknya Kroasia yang memainkan ciri Jerman. Itu pengalaman pahit bagi tim panser.
Lemahnya bek kiri Marcell Jansen merupakan mala petaka bagi kiper Jens Lehmann. Dua gol Kroasia memanfaatkan serangan sayap mereka. Pers Jerman mengutak-atik kelambanan Low mengganti Jansen, dia baru menggantinya dengan David Odonkor setelah turun minum. Kata orang, “the past is dead”, tak ada gunanya mengungkit hari kemarin. Tim panser kini bebenah serius.
Tak boleh lagi mengulang kesalahan sekecil apa pun. Low dan skuadnya harus tampil sempurna. Jika memberi nilai penampilan dua pertandingan kemarin, lawan Polandia Ballack Cs dinilai 6 tapi karena dua gol Podolski maka nilainya jadi 7. Lawan Kroasia dinilai 5,5 dan sebab kalah maka nilainya jadi 5. Lawan Austria, Ballack Cs harus meningkatkan kerja semua lini dan mencetak gol, nilai penampilan harus delapan.
Austria, peringkat 101 FIFA dan 43 UEFA, jauh berada dibawah Jerman (5 FIFA dan 3 UEFA), tetapi dengan keharusan menang serta dukungan supporter yang pasti akan memenuhi stadion Erns Happel, Wina, maka skuad Josef Hickersberger akan salin rupa menjadi kekuatan yang tidak mudah dilindas panser. “Ayo rame-rame mengulang peristiwa Cordoba!” Teriakan ini diserukan hampir semua anak negeri Austria.
Cordoba adalah tempat laga Austria versus Jerman Barat (nama Jerman sebelum bersatu dengan Jerman Timur) di Piala Dunia Argentina 1978. Waktu itu Austria menang 3-2 sekaligus menyingkirkan Jerbar. Waktu itu Jerman memerlukan kemenangan untuk lolos ke perebutan peringkat tiga lawan Brasil. Tapi kekalahan itu menempatkan Jerbar di posisi tiga dibawah Argentina dan Italia, sehingga Italia yang maju menghadapi Brasil. Waktu itu Jerbar ditukangi Helmoet Schoen dan punya seabrek nama besar, Sepp Maier, Vogts, Bonhof, Holzenbein, Rummenigge. Di kubu Austria Krankl, Prohaska, Pezzey, Hickersberger (pelatih yang sekarang, red) dan kiper Koncilia. Hari itu Hans Krankl mencetak dua gol, itulah kekalahan pertama Jerbar sejak digunduli Austria 0-5 tahun 1931.
Dua hari ini kubu Austria, termasuk pelatih Hickersberger bagai berada dalam tungku membara, memori Cordoba membakar semangat seluruh skuad. Bahkan kapten Austria, Andreas Ivanschitz seakan tak sabar menanti datangnya laga lawan Jerman. Nostalgia kejayaan “the wunder team” besutan pelatih legendaris Hugo Meisl membantai Jerman Barat 5-0 di Wina 77 tahun lampau ikut membangkitkan semangat baru Austria. Kali ini Austria juga tampil di Wina, tepatnya stadion Ernst Happel. Beberapa pilar Austria, kiper Juergen Macho, Martin Stranzl, Emanuel Pogatetz, Andreas Ivanschitz, Sebastian Prodl dan Martin Harnik akan berjuang sampai keringat penghabisan.
Supporter yang fanatik dengan semangat “panas” mendukung skuad Hickersberger akan jadi lawan bagi Michael Ballack Cs. Jika masih tampil dalam performans seperti dua pertandingan kemarin, jangan harap Ballack Cs bisa menaklukkan semangat “Cordoba dan Wunder Team” yang sudah merasuki segenap skuad Austria. Tehnik, pengalaman, fisik baik perorangan maupun secara team, Jerman masih lebih unggul. Dan Joachim Low harus bisa mengembalikan kepercayaan diri Lehmann, Ballack, Lhamm, Podolski, Frings, Klose, Mertesacker dan Metzelder, mengangkat performans mereka sebagaimana layaknya tim panser.
Laga ini akan sulit bagi kedua tim. Permainan keras yang melibatkan emosi akan mewarnai setiap momen. Perebutan kekuasaan di lapangan tengah, determinasi ke kotak pinalti lawan, serangan lewat sayap dan duel-duel udara akan mudah memicu permainan menjadi panas. Hiruk pikuk pendukung tuan rumah akan ikut membakar atmosfir pertandingan menjadi panas membara. Semoga wasit bisa meredam suhu panas ini dan bertindak adil serta fair. Peluang terjadinya hasil draw sangat besar, kalaupun harus memilih pemenang maka kans Jerman lebih besar 52 persen banding 48. ***

No comments: