PSSI, Korsel Dan Piala Dunia
Oleh : John Halmahera
(Artikel ini dipublished 26 April 2006)
Korea Selatan, sudah 7 kali partisipasi di
Piala Dunia, terbanyak di antara semua negara
Asia. Tahun 1954 di Swiss, adalah debut yang
mungkin bisa dikatakan kebetulan.
Lima lainnya sukses beruntun. Sepertinya sudah
menjadi target utama persepakbolaan negeri
ginseng itu. Tahun 1954 Korsel urutan 16 dari
16 peserta, tahun 1986 (urutan 20 dari 24),
1990 (22), 1994 (20), 1998 (30 dari 32),
2002 (4 dari 32) dan 2006.
Korsel lolos tahun 1986 ada kaitannya dengan
timnas Indonesia. Tim merah putih waktu itu
dilatih Sinyo Aliandoe dengan proyek officer
Acub Zaenal dan tim manajer mendiang
Benny Mulyono.
Timnas sukses juara sub-grup 3b zone Asia
mengatasi perlawanan Thailand, Bangladesh
dan India, prestasi yang membanggakan.
Indonesia kemudian harus laga dengan Korsel
untuk lolos ke semifinal zone Asia, dan kita
kalah telak 0-2 di Seoul dan 1-4 di Senayan.
Timnas kita memang kalah di semua aspek. Korsel
yang ditukangi Kim Jung-nam sudah satu kelas
diatas kita. Tidak mudah memang untuk lolos
ke Piala Dunia.
Untuk menuju ke Piala Dunia, kita sudah harus
masuk ke jajaran “high level football” katakan
saja sebagai standar international yang paling
“bottom”. Memperbanyak pengalaman tanding
dengan tim Eropa dan Latin, adalah salah satu
bagian dari proses panjang dan terencana itu.
Saya pikir rencana dan “blue-print” KFA Federasi
Sepakbola Korea untuk menembus pentas
international, dimulai sejak tahun 1977 atau
sekitar tahun itu. Jelasnya, hampir bersamaan
dengan langkah FIFA membantu anggotanya
mengembangkan sepakbola ilmiah.
Hampir semua pelatih kelas dunia yang sukses
sekarang ini jebolan dari Akademi Kepelatihan
FIFA yang disebar ke semua pelosok dunia.
Indonesia khususnya Jakarta mendapat kesempatan
menyelenggarakan program pelatih ini,
kalau tak salah tahun 1981.
Hasilnya tidak bisa instan. Jika dikerjakan
bersinambungan dalam satu organisasi
dari satu kepengurusan ke kepengurusan berikut
maka diperlukan sekitar dua dekade untuk
memetik hasilnya. Dan hasilnya itu tidak
langsung menembus Piala Dunia, tetapi sekedar
punya peluang sama dengan negara lain untuk
lolos kualifikasi.
KFA (PSSI-nya Korsel) mulai memetik hasil
10 tahun ke depan, tahun 1986 lolos ke Mexico’86.
Mereka sukses dengan materi pemain berusia lebih
kurang 15 tahun pada saat proyek besar itu
dimulai, generasi Choi Soon-yo Cs. Pemain
yang berusia 13 tahun, 11 tahun, 9 tahun dst-nya
menjadi pelapis di belakang generasi pertama itu.
Materi Korsel yang semifinalis PD 2002 asuhan
Guus Hiddink seperti Ahn Jung-hwan, Kim Nam-il,
Lee Young-po kelahiran 1977 masih baru lahir
ketika proyek itu dimulai.
Lee Woon-jae, kiper perkasa itu masih berusia 4
atau 5 tahun waktu itu. Kim Tae-young dan
Hong Myung-bo berusia 7 tahun waktu itu.
KFA bebenah di segala sektor untuk mempersiapkan
konstelasi sepakbola yang bisa mendukung program
menembus highlevel football itu.
Klub-klub wajib mendidik pemain usia dini.
Perusahaan dilibatkan dalam membangun stadion.
Ajang kompetisi berlapis-lapis dari tingkat yunior
di daerah, pusat sampai ke kompetisi liga
professional. Semua anak-anak berusia dini itu,
seakan masuk ke jalan tol atau
“saluran berjenjang” sampai menembus “high level”.
Yang punya bakat bisa terus, yang cidera atau
tidak berbakat akan terhenti.
Brasil, Argentina, Perancis, Inggris, Jerman,
Italia, Spanyol bahkan negara “mediocre” (dalam
ukuran sepakbola) seperti Turki, Yunani, Kamerun,
Nigeria, Senegal memulai proyek besar ini sejak
dua dekade lalu. Lihat saja kemajuan Korsel,
Jepang, Saudi Arabia, Iran, Cina, Turki,
Senegal, Kosta Rika.
Sebenarnya kita sudah hampir masuk ke persaingan
“high level football” (tahun 1985) namun sayang
belakangan kita semakin tertinggal. Kita tidak
sabar dan tidak konsisten dalam upaya
meningkatkan kualitas sepakbola kita menuju
pentas high level football.
Suatu proyek besar memang tidak bisa menghasilkan
prestasi instan, tetapi baru bisa dipetik
hasilnya sekitar satu-dua dekade ke depan.
Jika kita mau menuju high-level football,
kita perlu merancang “blue print” dari suatu
mega proyek yang harus didukung pemerintah.
Mulai dengan pemain usia dini, dan saat
bersamaan membangun lapangan dan stadion
ukuran internasional, klub harus dengan
manajemen professional, kompetisi berjenjang
dari usia dini sampai ke tingkat professional.
PSSI khususnya Pengda dan Klub harus lebih
fokus menuju “high-level football”. ***
Sunday, April 13, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment