Sunday, April 13, 2008

Menerobos “High Level Football” (1)
Oleh : John Halmahera

Artikel ini ditulis pada 18 September 2002

Sepakbola Nasional belakangan ini mendapatkan
pukulan beruntun. Di Pra Piala Dunia, Timnas
kita yang dilatih Benny Dolo kalah dari Cina.
Hal ini bisa dimaklumi dan sesuai prediksi
mengingat Cina adalah tim yang satu kelas
di atas kita. Bahkan untuk imbang saja, hampir
mustahil jika kita tanpa persiapan yang ekstra
profesional.
Saya ingin menggarisbawahi “ekstra profesional”
sebagai suatu upaya kerja oleh orang-orang
profesional dan upaya itu dilaksanakan dengan
sungguh-sungguh luar biasa.
Artinya disini terlibat orang-orang profesional yang
kualifaid dan yang bekerja sangat keras. Mereka
harus punya kredibilitas dan track-record yang tidak
sampai mendatangkan pro kontra di kalangan pers
dan publik.
Tentang pro dan kontra di publik saya ambil contoh
misalnya, kasus penggantian Dino Zoff oleh
Alberto Zaccheroni di klub Lazio baru-baru ini.
Sebelumnya Zoff pernah sukses dengan Lazio,
sebaliknya Zacheroni pernah gagal di AC Milan
(musim 2000-2001).
Publik menilai –dalam hal ini penilaian sudah berjalan
segaris dengan evaluasi tim Lazio sendiri- bahwa Zoff
tak lagi bisa menghendel Lazio. Harus diganti meskipun
rekor Zoff sebelumnya begitu prestisius baik di Lazio
maupun di tim Azzurri.
Sebagai penggantinya, Zaccheroni meski pun gagal
musim keduanya di AC Milan namun di musim
pertamanya (musim 1999-2000) bersama AC Milan
dia mendatangkan gelar scudetto.
Sosok kredibilitas Zach sebagai pelatih tak perlu
diragukan. Rekornya jelas dan nyata, hitam di atas
putih. Maka rekrutmen ini bisa diterima publik.
Kembali ke Timnas kita. Perlunya penanganan yang
ekstra profesional adalah upaya kita untuk bisa
menerobos dan masuk ke jajaran sepakbola kelas elit
atau yang biasa diistilahkan “high-level football”. Dari
Asia Tenggara sekarang ini saya nilai baru Thailand
yang sudah masuk ke high-level football. Anda akan
mengakui penilaian saya jika melihat penampilan
Thailand ketika main sama-kuat dengan Iran 0-0 di
Bangkok dalam PPD September 2001 kemarin. Dan
melihat seriusnya Vietnam menangani sepakbola-nya
decade akhir ini, saya hampir yakin negeri ini akan
masuk ke high-level football dalam 5 tahun mendatang.
Korea, Iran, Saudi Arabia, sudah masuk ke level ini
sejak awal 90-an. Kemudian lima tahun berikutnya,
Jepang menyusul. Kini Cina sudah mulai masuk ke
level itu setelah penanganan ekstra profesional oleh
Federasi Sepakbola Cina yang antaranya mengontrak
Bora Milutiniovic.
Federasi Cina punya perhitungan tepat, rekor Bora
yang selalu membawa tim mediocre lolos ke Piala Dunia,
ternyata merupakan kunci penentuan sukses Cina lolos
ke Piala Dunia 2002.
Mereka ini, Iran, Saudi, Korea, Jepang, sudah punya
standar yang katakan saja baku di sepakbola internasional.
Misalnya, jika Korea Selatan ketemu satu diantara
Malaysia atau Singapura atau Indonesia atau Bahrain
atau Yaman, standar penilaian menempatkan Korea
sebagai pemenang. Dan standar penilaian ini tak
berubah-ubah. Apa sebab ?
Jawabannya sederhana, sekali negeri itu masuk ke
high-level atau international competition (persaingan
internasional) maka tak ada lagi kata kemerosotan
kualitas secara drastis.
Satu contoh, Saudi Arabia yang terseok-seok
ditangani pelatih Slobodan Santrac lalu bisa kembali
menggigit dan berprestasi setelah digantikan Al-Johar.
Apa sebab ?
Jawabannya sederhana, bahwa semua pemain Saudi
itu sudah “dewasa” dan “terbiasa” bermain di tingkat
“high level football” sehingga untuk kembali ke standar
permainan timnya, tidaklah sulit. Selain itu, secara tim,
Saudi juga sudah punya “trade” dan standar yang tidak
dipungkiri sudah berada di level papan atas Asia.
Dan seperti juga Korea, Iran, dan Jepang, standar
kualita ini tak berbeda kelas dibanding tim-tim mediocre
Eropa, Afrika ataupun dari benua Amerika.
Kita tentu masih ingat, waktu Iran mengalahkan AS di
Piala Dunia 1998 atau Saudi mengungguli Belgia di Piala
Dunia 1994 atau Jepang yang membungkam Brasil di
Olimpiade Atlanta 1996.
Bukti lain, lihat pemain-pemain Asia yang bisa main dan
eksis di persaingan kompetisi seri-A Italia, Inggris, Spanyol,
hampir semuanya berasal dari negara yang sepakbolanya
sudah menerobos “high level football”.
Jika ada satu dua pemain seperti Fandi Ahmad, Bima Sakti
dan dulu itu Iswadi, Junaedi Abdillah, maka itu hanya satu
perkecualian yang didukung banyak faktor individual.
Karena yang pasti, suatu negara yang sudah masuk
‘high-level football” secara otomatis sebagian pemain
bintangnya akan dilirik dan dan dikontrak klub-klub Eropa.
Hal itu menjadi lumrah disebabkan pemain-pemain itu
sudah dewasa dan terbiasa main di tingkat “high level”
yang bobot kompetisinya sangat, sangat, sangat ketat.
Persoalan di sepakbola nasional sekarang ini, adalah
tidak-mampunya kita membentuk Timnas yang kredibel
dan eksis di mata publik. Kegagalan Timnas U-23 di SEA
Games kemarin ini, hanya menang atas Vietnam (ini
prestasi bagus) dan Brunei (hal yang biasa) dan kalah
dari Malaysia, Thailand serta Myanmar adalah pukulan
keras bagi persepakbolaan kita. Bahwa kalah dari
Thailand meski saya harus mengakuinya sebagai bukan
kekalahan dari persepakbolaan kita, namun masih bisa
diterima. Tetapi kalah dari Malaysia dan Myanmar
adalah “set-back”.
Sepakbola ini memang cuma tahu “hitam atas putih”.
Catatan sepakbola tak pernah menulis wasit
kontroversial, teror publik, cedera pemain atau
alasan-alasan lain kendatipun alasan itu fakta.
Sepakbola cuma menulis, Indonesia kalah 1-2 dari
Malaysia dan takluk 0-1 dari Myanmar. Dua negara
ini sudah lama tak pernah menang jika ketemu
Indonesia di arena apa pun. Itu yang ditulis
sepakbola, pahit memang pahit.
(bersambung)

No comments: