Thursday, April 24, 2008


Lawan Bahrain, Sangat Menentukan

Oleh : John Halmahera

Published : Warta PSSI – Desember 2006
Rubric OPINI

Tahapan paling penting menjelang Piala Asia 2007, telah selesai 19 Desember kemarin. Indonesia kebagian grup yang sulit. Di grup D itu berkumpul dua tim Piala Dunia Asia, Korea Selatan dan Arab Saudi. Satu lainnya adalah semifinalis Asia 2004, Bahrain. Peter Withe pelatih timnas, dalam situs AFC.com mengatakan timnya sulit untuk menang dari Saudi dan Korea. “Tapi kami akan bekerja keras apalagi kami telah melakukan persiapan serius dan keras selama ini,” katanya. “Dukungan penonton Senayan sangat diharapkan bisa membangkitkan semangat tanding para pemain,” tambahnya.
Bahrain adalah tim yang “lebih lemah” dibanding Korea dan Saudi demikian anggapan orang. Tapi pelatih Saudi, Marcos Paqueta justru menganggap Bahrain tim yang sedang berkembang pesat dan perlu diwaspadai. Ketika kalah 1-3 dari Australia di kualifikasi piala di Manama, Bahrain langsung memecat pelatihnya Luka Peruzovic, mantan pelatih klub elit Belgia, Anderlecht dan Standard Liege. Pergantian pelatih ke tangan eks defender Jerman, Hans-Peter Briegle membawa Bahrain ke Jakarta setelah menang 2-1 di Manama atas Kuwait dalam partai harus menang. Hasil draw saja maka Kuwait yang ke Jakarta.
Bahrain punya dua striker pengalaman, Hussein Ali, dijuluki “Pele” main di klub Al Rayyan dan sementara top scorer di liga Qatar dengan 9 gol dibuntuti rekan senegara Aala Hubail, klub Gharaffa/8 gol. Perlu dicatat yang main di Liga Qatar banyak striker internasional antaranya Gabriel Batistuta, Christophe Dugarry, Frank & Ronald de Boer, dan Sonny Anderson pindahan dari Villareal. Bahrain masih punya striker lain yang juga tajam, Talal Yousef, yang mencetak satu dari dua gol ke gawang Kuwait.
Pelatih Kuwait, Mihai Stoichita mengatakan Bahrain adalah tim yang “keras kepala” dan didukung banyak pemain berbakat. Bahrain nyaris hadir di Piala Dunia Germany 2006, gagal karena pada saat akhir dalam “play-off” kalah 0-1 dari Concacaf, Trinidad Tobago.
Jelas bahwa pertandingan pertama di Jakarta, Timnas lawan Bahrain pada 10 Juli merupakan partai krusial. Tarung yang harus dimenangkan Timnas, karena setelah itu pasukan Peter Withe ini akan menghadapi dua “raksasa” Asia, Arab Saudi (14 Juli) dan Korea Selatan (18 Juli) yang di atas kertas Timnas “sulit” untuk menang.
Tentang Bahrain, Timnas punya pengalaman berharga di piala Asia Cina 2004, dalam partai menentukan, harus menang untuk lolos, timnas kalah 1-3 dari Bahrain. Sebelumnya, timnas waktu itu ditukangi Ivan Kolev, membuat kejutan menang 2-1 atas Qatar meski kemudian kalah dari Cina. Timnas vs Bahrain 10 Juli mendatang akan sangat menentukan perjalanan timnas di penyisihan grup D. Sementara Bahrain juga membidik tiga angka penuh, karena tahu persis pertandingan berikutnya vs Korsel (15 Juli) dan Saudi (18 Juli) akan sangat berat.
Peter Withe benar, bahwa dukungan penonton Senayan yang pasti akan membludak, sangat diharapkan Timnas. Bahwa Bahrain punya beberapa pemain berkelas, saya pastikan Timnas kita juga punya pemain yang tidak kalah kelasnya, seperti, Bambang Pamungkas, Elli Aiboy, Ponaryo Astaman, tiga pilar inti. Tiga bintang ini adalah midfielder dan striker.
Sayang sekali bahwa selama Withe menukangi Timnas, saya belum melihat Withe menciptakan pertahanan yang solid. Lini belakang yang sering berubah-ubah formasi/susunan pemain membuat Timnas tak punya “bintang” di lini belakang. Padahal di Piala Asia nanti, ketangguhan, kekompakan dan organisasi pertahanan atau organisasi tim sewaktu hilang bola, harus sangat solid. Jika pertahanan tidak tangguh, jangan harap bisa menahan serangan 3 tim lawan itu.
Withe sudah harus pasang strategi sejak sekarang. Withe yang orang Inggris dan terbiasa dengan sepakbola gaya menyerang, paling tidak harus mengubah pola pikirnya. Bahwa pertahanan atau organisasi hilang bola sangat diperlukan untuk membendung agresifitas Hussein Ali, Aala Hubail, Talal Yousef dari Bahrain, Yasser Al Qahtani, Hamad Al Montashari pemain terbaik Asia dari Arab Saudi serta Park Ji Sung (MU), Lee Yong-pyo (Hotspurs), Kim Dong-jin, Lee Ho, Kim Dong-hyun yang main di klub-klub Rusia.
Meski seandainya tidak suka, Withe sudah harus memikirkan pola main yang cenderung bertahan dan mengandalkan serangan balik. Kita semua bisa belajar dari Irak yang mengalahkan Korsel di semifinal Asian Games. Sepanjang 90 menit Korsel mengurung daerah Irak, tetapi organisasi hilang bola yang begitu rapi, disiplin dan kuat fisiknya dari pemain Irak membuat Korsel harus kalah 0-1. Gol itu diciptakan dari serangan balik.
Kita juga nonton bagaimana hebatnya organisasi hilang bola yang dimainkan klub Brazil, Internacional ketika mengalahkan juara Eropa Barcelona dalam final liga Chamions FIFA beberapa waktu lalu. Gol itu juga dihasilkan dari serangan balik. Sepakbola sekarang sudah menciptakan pola main “defensive plus counter attack” khususnya tim underdog saat bertarung lawan tim kelas atas. Dan jika memang Withe mau, maka strategi itu sudah harus dipersiapkan, harus dilatih, harus didrill, sejak sekarang. Jangan sampai terlambat, dan jangan sampai kita dipermalukan di depan publik Senayan. ***

Catatan : Belakangan di Piala Asia itu, Indonesia ditangani Ivan Kolev (With sudah dipecat dan diganti Ivan Kolev) menang 2-1 atas Bahrain.

No comments: