Sunday, April 13, 2008

JEJAK MUHAMMAD ALI (Bagian 6)

RAMALAN RONDE TIGA,
ALI SI KUPU-KUPU AKAN MATI !
FOREMAN SI ELANG AKAN TERBANG
Oleh : John Halmahera
(Saduran bebas dari buku “Ali The Greatest”)

Bundini Brown dan Angelo Dundee berteriak dari bawah.
Suaranya tegang. “Dance Champ, Dance ! Float Like A
Butterfly, Sting Like A Bee !”
Sementara penonton Zaire, yang hampir seluruhnya
mendukung Ali, ikut memberi semangat. “Ali Bomaye !
Ali Bomaye !”
Ali tahu arti kata “bomaye”, hancurkan dia, pukul dia
jatuh bahkan bisa berarti “bunuh dia”. Orang-orang
Afrika itu masih saja yakin bahwa Ali akan menang,
meskipun di ronde satu sudah tampak betapa
perkasanya Foreman.
Mengawali ronde dua, Ali langsung bergerak mundur
dan bersandar di tali. Kata Ali dalam bukunya “the
Greatest”, tentang taktiknya ini. “Untuk pertama
kalinya dalam karirku, aku memilih bersandar di ring
pada saat aku masih kuat dan memiliki stamina.
Biasanya aku main di tali, pada saat tenaga ku sudah
terkuras, kali ini tidak begitu. Aku memutuskan
taktik inilah yang bisa mengatasi langkah-potong
Foreman yang dengan 3 langkah memaksa aku
bergerak 6 langkah, sesuatu yang bisa membuat
aku habis karena terkuras stamina.”
Ali bersandar di tali.
Bundini dan Dundee berteriak, “Ali keluar dari situ,
menari, bergerak ke tengah ring !”
Tetapi Ali tetap bersandar ke tali. Ini memancing
Foreman yang dengan antusias dan nafsu menyerbu
ke Ali.
“Ayo, Tolol ! Mainkan senjata milikmu,” goda Ali.
Beberapa pukulan Foreman melayang. Ali bertahan
memblok dangan siku dan tangannya. Tampak tubuh
Ali bergoyang ke sana ke mari kena imbas pukulan
keras lawan. Pukulan Foreman memang dahsyat.
“Ayo Tolol, kata orang pukulanmu keras ? …
..Benarkah itu ?”
Meskipun tetap menggoda namun di dalam hati Ali
mengakui hebatnya lawan. Tak pernah bisa
dibayangkan seorang manusia bisa memukul
sekeras itu. Foreman memang dahsyat, monster
dengan godam seberat tonase raksasa. Tetapi Ali tak
mau memperlihatkan rasa sakit atau takut. Ali tetap
menggoda dengan ocehannya.
“Ah Tolol ! Cuma sebegitu kerasnya, Nak ? Tak ada
hebatnya,” goda Ali.
“Kamu tak punya pukulan keras, kamu cuma
seekor poni (anak kuda, red), tidak lebih dari itu,
lemah dan sok jago.”
Foreman memukul lagi dengan nafsu membunuh.
Dia melepas beberapa pukulan kerasnya, yang
meskipun berhasil diblok Ali, namun tetap saja
membuat tubuh Ali dan seantero tali seputar ring,
bergoyang seperti dilanda gempa. Satu pukulan
Foreman meskipun menerpa double-cover dua
tangan Ali, berhasil menerobos dan dengan
sisa-sisa kerasnya pukulan itu menerpa kepala Ali.
Ali merasa pusing, seperti mau jatuh. Lututnya
bergetar. Ada rasa lemas yang menyerang sekujur
tubuhnya. Tetapi Ali tetap bersandar di tali dengan
dua tangan yang memblok pukulan-pukulan susulan
Foreman. Ali tetap bertahan, sementara Dundee
berteriak dari bawah ring. “Ali, bergerak, keluar
dari situ, bergerak ke tengah !”
Ali mengaku saat itu, ia mendengar sayup-sayup
suara Dundee dan Bundini, tetapi tak bisa menangkap
apa teriakannya. Ali merasa seperti sedang menuju
ke alam lain. Ada rasa pusing, matanya
berkunang-kunang. Tetapi Ali bersyukur bahwa dia
sudah pengalaman menghadapi situasi kritis
seperti ini.
Ketika lawan Ken Norton, rahangnya retak di ronde
dua, tetapi dia masih bisa bertahan sampai ronde 15.
Ketika lawan Joe Frazier (partai pertama), dia
sempat jatuh kena hook Frazier. Meskipun waktu itu
dia langsung bangkit sebelum dihitung wasit, namun
pengalaman knock-down (bukan knock-out) itu
ternyata sangat berharga di saat kritis terkena
imbas godam keras Foreman. Jika bersandar di tali,
Ali pasti sudah jatuh.
“Aku tak boleh kena pukul lagi,” begitu kata Ali.
Dia juga tahu bahwa pertahanan terbaik adalah saat
kita menyerang. Tetapi saat itu dia tak bisa
menyerang dan hanya mampu bertahan.
Pukulan ganas Foreman melanda tubuh Ali, di
rusuk, iga, dan kepala. Ali tetap bersandar di tali,
menghindar dengan irama goyangan tali, memblok
dengan tangan, dengan siku. Ali tetap bersandar di tali.
“Ali keluar dari situ, bergerak ke tengah, menari
ayo menari !” teriak keras Bundini.
Tetapi Ali tetap bersandar di tali. Dan ketika masuk
30 detik terakhir, Ali keluar dari kurungan Foreman.
Menari, menyerang dengan cepat, Ali melepas jab,
straight satu dua ke kepala si raksasa. Dan Ali tetap
tidak lupa dengan program ocehannya.
“Hei Tolol, cuma itu kemampuanmu, tak ada lagi
yang lebih keras ?” Ali sengaja tidak mau
memperlihatkan bahwa tadi itu Foreman berhasil
menyakitinya.
Ketika bel akhir ronde dua berbunyi, Ali menuju ke
sudutnya. Dia melihat Dundee, Bundini dan
orang-orang di kubunya, semuanya bingung. Mereka
bingung, melihat Ali terkurung dan dihujani begitu
banyak pukulan keras, namun mendadak di akhir
ronde dia keluar dan menari sambil melepas beberapa
pukulan ke wajah Foreman.
Tetapi di waktu jedah itu, Angelo Dundee masih saja
menasehati Ali untuk menari dan menghindari tali.
Karena itulah yang dimaui Foreman. Itu strategi kubu
Foreman, mengurung Ali di sudut atau tali ring.
Sementara di kubu Foreman, Saddler dan Archie
merasa senang, sadar bahwa taktik dan strategi
mereka sukses membuat Ali terkurung di tali.
Mereka yakin, hanya tinggal waktu saja, Ali akan
jatuh, KO. Itupun kalau nyawa Ali masih bisa selamat.
Ali konsentrasi dan tetap pada pilihannya, bersandar
di tali pada saat staminanya masih bagus. Suara dan
instruksi Dundee tidak mempengaruhi keputusannya.
Ali juga berpikir, bahwa Foreman akan mengeluarkan
semua senjata pamungkasnya di ronde tiga ini, ronde
yang merupakan target menjatuhkan Ali. Bukti
memang nyata, selama ini Foreman hampir tak
pernah bertinju lewat dari tiga ronde, semua
lawannya KO sebelum ronde tiga berakhir.
Sudag 23 petinju yang jadi korban KO, dan kini Ali
diramalkan sebagai korban KO ke-24.
Di masa jedah sebelum ronde tiga, tiba-tiba terdengar
suara keras lewat megapon.
“Ramalan di ronde tiga ! Hitungannya di ronde tiga !”
Ali melihat ke kubu Foreman, tidak ada. Dia melihat
berkeliling dan menemukan orangnya.
Elmo Henderson dengan megapon. Badut itu
adalah mantan petinju kelas berat yang kini sangat
menjagoi Foreman.
“Oh yea, oh yea, ramalannya di ronde tiga !”
Henderson sudah mengabdikan dirinya untuk
Foreman, selalu menjagoi Foreman. Sepanjang
beberapa malam dia berkeliling Hotel tempat Ali
dan juga para wartawan nginap, berteriak-teriak
dan bersyair dengan megapon :
“oh yea ! oh yea !
Hari ini, adalah saatnya !
Ramalan di ronde tiga !
George sang elang akan terbang !
Ali si kupu-kupu akan mati !”

Kemarin malam, Bundini tidak sabar. Keluar ke
pekarangan Hotel dan meneriaki Henderson.
“Hei, kamu tak akan bisa mengalahkan Ali. Pasang
uangmu di mulutmu yang besar dan kotor itu !”
Tetapi suara Henderson lebih keras, apalagi dia
menggunakan megapon. Lantas Bundini masuk
Hotel sambil ngomel, “tak mungkin bisa menang
berdebat dengan orang gila.”
Kembali ke pertarunan. Saat itu suara Henderson
terdengar jelas, “Ini ronde tiga, sekarang ini
saatnya !”Bel berbunyi :
Ronde TIGA.
Ai bergerak cepat, menari dan melepas jab-jab.
Wajah Foreman kena telak. Mata Foreman
mendelik, tetapi bergerak cepat ibarat tank
raksasa mengejar Ali. Dia menguasai area tengah
ring, menduga Ali akan datang menghampirinya
dengan menari dan jab. Tetapi Ali justru mundur
ke tali dan menggapai Foreman untuk datang.
“Baiklah sucker (maki yang kotor, red) ! Ini kan
yang kau mau, come on, man !” Ali bersuara keras.
Wasit Zack Clayton menegur Ali. “Diam kamu
Ali, sekali lagi ini peringatan terakhir,
berhenti bicara !”
Clayon seperti juga orang lain, menanti-nanti
apakah di ronde tiga ini Ali akan jatuh KO. Namun
bagi Ali, boleh saja kalah atau KO, tetapi tidak
boleh ada yang melarangnya bicara. Lalu Ali
melayangkan beberapa jab ke wajah Foreman,
sambil tetap ngoceh. “Sucker, mana
pukulanmu ? Mana ? Perlihatkan padaku !
Kamu tak ada apa-apanya !”
Para pembantu Ali berteriak dari bawah,
“Ali menjauh dari tali ! Keluar dari situ !”
Foreman melepas beberapa bom ke kepala Ali
tetapi tertahan blok double-cover,
Ali bersandar di tali. Setiap pukulan Foreman
ibarat seorang kuli bangunan yang memukulkan
palu raksasa ke sebuah tembok. Penonton yang
berada di jarak jauh, bahkan di depan layar kaca,
seperti merasakan bobot godam keras
raksasa itu. Dahsyat !
Di antara beberapa hook, Foreman melepas
uppercut yang menguak dua tangan Ali dan
menghantam dagu Ali. Sakit, Ali kesakitan,
tetapi tetap bertahan di tali.
Bundini berteriak. “Champ keluar dari situ,
bergerak keluar !”
Ali masih bersandar di tali dan Foreman tetap
memukul. Ronde tiga sepertinya akan menjadi
“ronde kematian” bagi Ali.
Dan Ali memgakui itulah ronde terberat dan
terpanjang yang pernah dia jalani selama
karirnya.
Foreman masih saja ngamuk, bagaikan monster
yang ingin menghancurkan lawan di depannya.
Ali sedikit-sedikit mulai terbiasa dengan
permainannya di sandaran tali ring.
Lalu mendadak Ali membalas dengan jab-jab
dan straight one-two yang keras dan tajam.
Foreman terkejut. Pukulan Ali menyengat
wajah Foreman.
Penonton Zaire histeris seperti melihat Ali
bangkit kubur. “Ali Bomaye ! Ali Bomaye !”
Pukulan itu tidak keras, dan tidak mematikan,
tetapi cukup membuat Foreman terkejut,
seakan tidak percaya bahwa pukulannya yang
begitu banyak dan begitu keras ternyata tak
mampu menjatuhkan Ali, bahkan Ali sanggup
membalas, mendaratkan beberapa jab ke
wajahnya. Foreman terkejut dan heran.
Sebenarnya, inilah yang dimaui Ali. Yakni
membuat Foreman ragu akan diri sendiri.
Membuat Foreman percaya bahwa pukulan
keras Foreman tak sanggup menjatuhkan Ali.
Dan ternyata strategi Ali ini mulai berhasil di
ronde tiga ini. Foreman mulai ragu. Karena
semula dia merencanakan di ronde tiga ini
dia akan menghabisi Ali bahkan kalau bisa
membunuh Ali dengan godam raksasanya.
Tetapi buktinya Ali masih bertahan bahkan
masih super dan sanggup membalas dengan
perkasanya. Foreman mulai ragu akan
dirinya sendiri.

(bersambung)

No comments: