JEJAK MUHAMMAD ALI
ALI ! ALI BOMAYE !
ALI ! ALI BOMAYE!
Oleh : John Halmahera
George Foreman sang juara datang. Langkahnya tegar, sosok tubuhnya besar, kokoh dibungkus mantel tipis. George melangkah ibarat banteng memasuki arena dimana sang matador menanti. Pertarungan mati atau hidup. Dia berjalan tegar diiringi kelompok pembantunya yang mengelilinginya seperti pasukan pengawal yang siap menghantam siapa saja yang menghalangi langkah sang juara.
. Para supporter dan pengagumnya berteriak histeris. “Foreman ! Foreman! Foreman!” Gedung itu seakan hendak runtuh. Ternyata pendukung Foreman tetap saja banyak. Mereka semuanya yakin bahwa George Foreman akan menghancurkan Ali “si mulut besar”. Tak ada seorang pun yang sanggup menahan godam keras Foreman. Tak ada !
Dari atas ring Ali mengawasi Foreman sampai lawannya ini meniti ke atas ring. Bersamanya adalah para penasehat dan pelatihnya, Dick Sadler, Archie Moore, Sandy Saddler.
Begitu sampai di atas ring, Foreman langsung menuju ke sudut, duduk di situ dengan pongahnya. “Akulah sang juara dan akan tetap juara,” begitu kata hatinya.
Tetapi anehnya, dia tidak bergerak ke seputar ring, mencoba merasakan kanvas dan empat sudutnya. Dia bahkan tidak menjajal tali ring atau merasakan atmosfir yang dibangun penonton. Mungkin Foreman meras tak perlu melakukan itu, apapun kondisi dan situasinya dia yakin akan menghajar Ali sampai remuk redam. Dan Foreman tetap bercokol di tempat duduknya sampai saat wasit Clayton maju ke tengah-tengah ring.
Ali bergerak ringan, dansa dengan lincahnya. Ali melirik ke sudut lawan, melihat Dick Sadler sedang berbisik di telinga Foreman. Saat itu wasit Zack Clayton maju ke tengah ring, Foreman berdiri. Lalu Clayton menggapai kedua petinju untuk maju mendekat.
Teriakan membahana di dalam gedung saat kedua petinju saling berhadapan.
“Ali Ali Bomaye! Ali Ali Bomaye!”
Itu teriakan dalam bahasa Lingala artinya kira-kira “Ali pukul jatuh dia! Atau, Ali bunuh dia!”
Jika Ali didukung hampir seluruh orang Zaire, Foreman justru oleh kelompok pendatang yang sengaja terbang dari Amerika, Eropa bahkan juga Asia. “Foreman! Foreman! Sang Juara! Sang Juara!”
Mata kedua petinju saling tatap tajam, seperti dua cowboy dalam film Wild_West yang hendak duel. Angelo Dundee dan Bundini Brown menyeka tubuh Ali dengan handuk, keduanya tampak tegang. Sandy dan Archie berdiri di sisi Foreman.
Lantas Clayton mulai memberikan instruksi. “Nah sekarang ini, kalian berdua sudah tahu peraturannya. Waktu aku mundur, kalian harus lepas dari pelukan (clinch), dan tidak boleh memukul pada saat lepas dari pelukan……”
Tetapi Ali menarik picu senjatanya duluan. Ali menjulurkan leher sampai mulutnya hampir nempel ke telinga Foreman. “Tolol (dalam bahasa Inggris, chump), kamu akan kupukul habis-habisan di depan publik Afrika ini malam.”
Wasit Clayton mendelik. “Ali tidak boleh bicara!Dengarkan instruksiku.” Lalu dia melanjutkan,”Tidak boleh memukul di bawah pusar, tidak boleh memukul dengan belakang tangan ….”
“Tak usah perduli dengan aturan itu, bodoh. Aku akan memukul seluruh tubuhmu kecuali dibawah celanamu. Kau akan jatuh, tolol.”
Clayton menegur, suaranya tinggi. “Ali, kuperingatkan kamu, diam!”
Foreman menggigit bibir dan matanya setengah melotot.
Ali bicara lagi.”Wasit! Orang ini dalam kesulitan. Dia bukan seorang juara!”
Mata Foreman berpindah-pindah dari Ali ke Clayton. Dia ingin Clayton menghukum Ali. Namun Ali berhasil menarik perhatian Foreman sekali lagi.
Wasit Clayton masih berbicara. Tetapi Ali sibuk merusak emosi Foreman. “Kamu telah mendengar banyak betapa hebatnya aku, bertahun-tahun kau mendengar ini. Tolol, sepanjang umurmu kau mendengar hebatnya Muhammad Ali. Dan sekarang ini Tolol, kau harus menghadapi aku.”
Clayton berseru keras. “Ali kuperingatkan kamu yang terakhir kalinya.”
Mata Foreman tajam dan keras, kepalanya dekat dengan kepalaku.
“Kamu mendengar betapa jahatnya aku sejak kau masih anak ingusan. Dan malam ini, aku akan memukulmu sampai kamu menangis macam rengek seorang bayi.”
Clayton benar-benar marah, tangannya sampai gemetar. “Ali, jika masih kamu bicara, kamu akan ku-diskualifikasi. Aku mau pertarungan yang bagus, bersih, sportif atau aku akan menunda pertarungan ini.”
“Ali bersuara lagi. “Itu satu-satunya cara menyelamatkan si Tolol ini.”
Keringat Foreman bercucuran. Archie Moore menyeka punggung dan wajah Foreman dengan handuk.
“Ali dengar, jika kamu bicara pada waktu bertarung,” kata Wasit, “ aku akan menghentikan pertarungan ini, kau dengar itu ? Kuhentikan!”
Ali sudah pernah mendengar ancaman wasit seperti ini. Tetapi mana aturannya tidak boleh bicara. Lagipula pertarungan ini sangat penting, tidak mungkin wasit berani menghentikannya. Jutaan manusia nonton dari satelit TV. Wasit ini gila jika berani melakukan itu. Itu sebab Ali tetap saja bicara.
“Eh Tolol, aku terlalu cepat untuk seorang raksasa, mumi yang lamban dan pemalas. Gelarmu sudah hilang, seharusnya kamu tak usah datang ke Afrika ini.”
Clayton menyelesaikan bicaranya. “Baiklah, Pergilah ke sudut kalian, dan maju bertarung begitu mendengar tanda bel. Dan semoga yang terbaik yang menang…”
TENG! Ronde Satu.
Ali keluar dari sudutnya dan menari mengitai Foreman. Melepas jab kiri yang cepat, macam sambaran ular kobra. Foreman merunduk dan merangsek maju, Ali menghindar sambil menari dan melepas jab-jab kirinya. Pada mulanya Ali tak bersuara. Namun di tengah-tengah ronde, Ali bicara.
“Kemarilah Tolol. Ini kesempatanmu, perlihatkan padaku apa senjata terbaikmu!”
“Kamu main macam anak-anak di Taman Kanak-Kanak.”
Jab Ali yang keras menerpa wajah Foreman yang kontan mendelik kaget.
“Ini yang berikutnya, Tolol. Ini satu lagi.”
“Tidakkah mereka mengatakan pada mu, bahwa akulah yang tercepat di kelas berat yang pernah ada di dunia ini ? Mereka tidak mengatakannya padamu, iya Tolol ?”
“Hei Tolol, ronde sudah hampir habis, tetapi kamu bahkan belum memukul.”
Tetapi di paruh kedua ronde satu itu, Foreman mulai memperlihatkan apa yang dipelajarinya selama beberapa bulan belakangan ini. Foreman memotong ring dengan langkahnya yang panjang, memaksa Ali melangkah 6 tindak sementara Foreman hanya dua atau tiga langkah. Menurut Ali, selama karirnya belum ada yang sanggup melakukan jalan-potong seperti yang dipraktekkan Foreman malam ini.
Taktik ini memaksa Ali tergiring ke sudut. Foreman bergerak cepat, melepas pukulan hook dan straight yang keras, kiri dan kanan sama kerasnya. Tubuh Ali terombang-ambing. Godam Foreman memang dahsyat apalagi dilepas dari kondisi tubuh Foreman yang sedang berada di puncak. Ali dalam bahaya!
“Ali bergerak, menari. Keluar dari sudut!” Teriakan dari Dundee dan Bundini.
Selama persiapan Ali berlatih untuk menjauh dari tali ring. Ali berlatih bagaimana cara melepas diri dari kurungan di tali, Ali dilatih utnuk menghindar dari tali dan sudut. Ali dilatih untuk menari mengelilingi ring. Tetapi sebelum ronde berakhir Ali sudah tahu bahwa dia harus mengubah taktik dan rencananya. Apa sebab ?
Ali melihat bahwa Foreman telah menemukan kunci rahasia memotong jalan Ali. Bahwa Dick Sadler dan Archie Moore telah mengajarkan taktik itu kepada Foreman. Dan Si Tolol itu ternyata sangat mahir menjalankan taktik itu.
Ali sangat sulit untuk dipukul di ronde-ronde awal,sebab Ali cepat dan masih segar. Tetapi siapapun juga, tidak akan sanggup bertahan sampai ronde limabelas jika harus melangkah 6 tindak sementara lawannya hanya 3 langkah. Ali tahu dia akan cepat letih, dan begitu dia letih, habislah dia. Foreman akan melumatnya seperti menginjak kerupuk.
Waktu istirahat menjelang ronde dua, Dundee mengajari Ali. “Menari, kamu harus menari dan menjauh dari tali. Terus bergerak.”
Dundee dan Bundini melihat bahwa Ali harus bergerak terus, menari dan menjauh dari ring. Tetapi Ali ternyata berpikir sebaliknya. Dalam tiga menit tadi, Ali merasakan betapa hebatnya tenaga Foreman. Dan Ali mengerti sebabnya mengapa Frazier dan Norton terjungkal dihajar habis oleh Foreman. Pukulannya benar-benar dahsyat.
Saat itu, Blood, pembantu Ali, menunjuk dokter Broadus dari kubu Foreman. Dia berdiri dekat ring, ingin mendengar apa yang dikatakan Dundee dan Bundini. Lantas Blood memberi tanda hendak mengusir dokter itu. Namun Ali berseru keras. “Biarkan dia mendengar lalu menceritakan kepada Foreman. Biarkan saja. Tak usah perduli, sebab Foreman hanya mendengar apa kata-kataku di atas ring sana.”
“Ali, kamu harus bergerak, menari dan sengat dia.” Maksud sengat di sini adalah “sting like a bee” menyengat seperti lebah, mengumpamakan jab-jab Ali yang cepat dan tajam.
TENG! Ronde Dua.
Ali bergerak ke tengah ring, menari dan menyengat denan beberapa jabnya. Tetapi Ali mengerti bahwa bahaya untuk dirinya bukan pada saat dia tersudut dan bersandar di ring, melainkan pada 6 langkah dirinya berbanding 3 langkahnya Foreman. Rupanya Sadler dan Archie Moore sudah memperhitungkan taksik ini akan membuat Ali letih di ronde 9 dan saat itulah Foreman akan melumat habis Ali.
Di suatu sudut, Eddie Futch berdiri dan berteriak keras, mendukugn dan membela Foreman. Dia, Eddie Futch adalah manajer yang disebut-sebut orang mahir mematahkan strategi Ali. Dan juga Futch yang melatih Ken Norton dan Joe Frazier yang ketika itu mengalahkan Ali.
Dalam satu artikel, Futch berkomentar pedas. “Foreman akan menyudutkan Ali dan akan menghancurkan Ali di sudut itu. Tak ada sesuatu di dunia yang bisa menghambat Foreman dalam hal menyudutkan Ali di sudut ring. Dan jika itu kejadian maka Ali akan hancur, Foreman itu memiliki pukulan sedahsyat Joe Louis dan Rocky Marciano. Sungguh, aku hanya bisa berdoa untuk keselamatan Ali,”kata Futch waktu itu.
Malam itu, menurut pengakuan Ali, dia melihat Futch. Dan adrenalin dalam tubuh Ali bergolak hebat. “Aku harus membalas kekalahanku dari dua petinju asuhan Eddie Futch
itu, sekarang aku akan mengalahkan dia,” begitu kata Ali.
Dundee dan Bundini berteriak. “Dance Champ, float like a butterfly, sting like a bee!!”
(Menari lah juara, terbang laksana kupu-kupu dan menyengat macam lebah.)
Penonton Zaire berteriak. “Ali Bomaye! Ali Bomaye!”
(bersambung)
ALI ! ALI BOMAYE !
ALI ! ALI BOMAYE!
Oleh : John Halmahera
George Foreman sang juara datang. Langkahnya tegar, sosok tubuhnya besar, kokoh dibungkus mantel tipis. George melangkah ibarat banteng memasuki arena dimana sang matador menanti. Pertarungan mati atau hidup. Dia berjalan tegar diiringi kelompok pembantunya yang mengelilinginya seperti pasukan pengawal yang siap menghantam siapa saja yang menghalangi langkah sang juara.
. Para supporter dan pengagumnya berteriak histeris. “Foreman ! Foreman! Foreman!” Gedung itu seakan hendak runtuh. Ternyata pendukung Foreman tetap saja banyak. Mereka semuanya yakin bahwa George Foreman akan menghancurkan Ali “si mulut besar”. Tak ada seorang pun yang sanggup menahan godam keras Foreman. Tak ada !
Dari atas ring Ali mengawasi Foreman sampai lawannya ini meniti ke atas ring. Bersamanya adalah para penasehat dan pelatihnya, Dick Sadler, Archie Moore, Sandy Saddler.
Begitu sampai di atas ring, Foreman langsung menuju ke sudut, duduk di situ dengan pongahnya. “Akulah sang juara dan akan tetap juara,” begitu kata hatinya.
Tetapi anehnya, dia tidak bergerak ke seputar ring, mencoba merasakan kanvas dan empat sudutnya. Dia bahkan tidak menjajal tali ring atau merasakan atmosfir yang dibangun penonton. Mungkin Foreman meras tak perlu melakukan itu, apapun kondisi dan situasinya dia yakin akan menghajar Ali sampai remuk redam. Dan Foreman tetap bercokol di tempat duduknya sampai saat wasit Clayton maju ke tengah-tengah ring.
Ali bergerak ringan, dansa dengan lincahnya. Ali melirik ke sudut lawan, melihat Dick Sadler sedang berbisik di telinga Foreman. Saat itu wasit Zack Clayton maju ke tengah ring, Foreman berdiri. Lalu Clayton menggapai kedua petinju untuk maju mendekat.
Teriakan membahana di dalam gedung saat kedua petinju saling berhadapan.
“Ali Ali Bomaye! Ali Ali Bomaye!”
Itu teriakan dalam bahasa Lingala artinya kira-kira “Ali pukul jatuh dia! Atau, Ali bunuh dia!”
Jika Ali didukung hampir seluruh orang Zaire, Foreman justru oleh kelompok pendatang yang sengaja terbang dari Amerika, Eropa bahkan juga Asia. “Foreman! Foreman! Sang Juara! Sang Juara!”
Mata kedua petinju saling tatap tajam, seperti dua cowboy dalam film Wild_West yang hendak duel. Angelo Dundee dan Bundini Brown menyeka tubuh Ali dengan handuk, keduanya tampak tegang. Sandy dan Archie berdiri di sisi Foreman.
Lantas Clayton mulai memberikan instruksi. “Nah sekarang ini, kalian berdua sudah tahu peraturannya. Waktu aku mundur, kalian harus lepas dari pelukan (clinch), dan tidak boleh memukul pada saat lepas dari pelukan……”
Tetapi Ali menarik picu senjatanya duluan. Ali menjulurkan leher sampai mulutnya hampir nempel ke telinga Foreman. “Tolol (dalam bahasa Inggris, chump), kamu akan kupukul habis-habisan di depan publik Afrika ini malam.”
Wasit Clayton mendelik. “Ali tidak boleh bicara!Dengarkan instruksiku.” Lalu dia melanjutkan,”Tidak boleh memukul di bawah pusar, tidak boleh memukul dengan belakang tangan ….”
“Tak usah perduli dengan aturan itu, bodoh. Aku akan memukul seluruh tubuhmu kecuali dibawah celanamu. Kau akan jatuh, tolol.”
Clayton menegur, suaranya tinggi. “Ali, kuperingatkan kamu, diam!”
Foreman menggigit bibir dan matanya setengah melotot.
Ali bicara lagi.”Wasit! Orang ini dalam kesulitan. Dia bukan seorang juara!”
Mata Foreman berpindah-pindah dari Ali ke Clayton. Dia ingin Clayton menghukum Ali. Namun Ali berhasil menarik perhatian Foreman sekali lagi.
Wasit Clayton masih berbicara. Tetapi Ali sibuk merusak emosi Foreman. “Kamu telah mendengar banyak betapa hebatnya aku, bertahun-tahun kau mendengar ini. Tolol, sepanjang umurmu kau mendengar hebatnya Muhammad Ali. Dan sekarang ini Tolol, kau harus menghadapi aku.”
Clayton berseru keras. “Ali kuperingatkan kamu yang terakhir kalinya.”
Mata Foreman tajam dan keras, kepalanya dekat dengan kepalaku.
“Kamu mendengar betapa jahatnya aku sejak kau masih anak ingusan. Dan malam ini, aku akan memukulmu sampai kamu menangis macam rengek seorang bayi.”
Clayton benar-benar marah, tangannya sampai gemetar. “Ali, jika masih kamu bicara, kamu akan ku-diskualifikasi. Aku mau pertarungan yang bagus, bersih, sportif atau aku akan menunda pertarungan ini.”
“Ali bersuara lagi. “Itu satu-satunya cara menyelamatkan si Tolol ini.”
Keringat Foreman bercucuran. Archie Moore menyeka punggung dan wajah Foreman dengan handuk.
“Ali dengar, jika kamu bicara pada waktu bertarung,” kata Wasit, “ aku akan menghentikan pertarungan ini, kau dengar itu ? Kuhentikan!”
Ali sudah pernah mendengar ancaman wasit seperti ini. Tetapi mana aturannya tidak boleh bicara. Lagipula pertarungan ini sangat penting, tidak mungkin wasit berani menghentikannya. Jutaan manusia nonton dari satelit TV. Wasit ini gila jika berani melakukan itu. Itu sebab Ali tetap saja bicara.
“Eh Tolol, aku terlalu cepat untuk seorang raksasa, mumi yang lamban dan pemalas. Gelarmu sudah hilang, seharusnya kamu tak usah datang ke Afrika ini.”
Clayton menyelesaikan bicaranya. “Baiklah, Pergilah ke sudut kalian, dan maju bertarung begitu mendengar tanda bel. Dan semoga yang terbaik yang menang…”
TENG! Ronde Satu.
Ali keluar dari sudutnya dan menari mengitai Foreman. Melepas jab kiri yang cepat, macam sambaran ular kobra. Foreman merunduk dan merangsek maju, Ali menghindar sambil menari dan melepas jab-jab kirinya. Pada mulanya Ali tak bersuara. Namun di tengah-tengah ronde, Ali bicara.
“Kemarilah Tolol. Ini kesempatanmu, perlihatkan padaku apa senjata terbaikmu!”
“Kamu main macam anak-anak di Taman Kanak-Kanak.”
Jab Ali yang keras menerpa wajah Foreman yang kontan mendelik kaget.
“Ini yang berikutnya, Tolol. Ini satu lagi.”
“Tidakkah mereka mengatakan pada mu, bahwa akulah yang tercepat di kelas berat yang pernah ada di dunia ini ? Mereka tidak mengatakannya padamu, iya Tolol ?”
“Hei Tolol, ronde sudah hampir habis, tetapi kamu bahkan belum memukul.”
Tetapi di paruh kedua ronde satu itu, Foreman mulai memperlihatkan apa yang dipelajarinya selama beberapa bulan belakangan ini. Foreman memotong ring dengan langkahnya yang panjang, memaksa Ali melangkah 6 tindak sementara Foreman hanya dua atau tiga langkah. Menurut Ali, selama karirnya belum ada yang sanggup melakukan jalan-potong seperti yang dipraktekkan Foreman malam ini.
Taktik ini memaksa Ali tergiring ke sudut. Foreman bergerak cepat, melepas pukulan hook dan straight yang keras, kiri dan kanan sama kerasnya. Tubuh Ali terombang-ambing. Godam Foreman memang dahsyat apalagi dilepas dari kondisi tubuh Foreman yang sedang berada di puncak. Ali dalam bahaya!
“Ali bergerak, menari. Keluar dari sudut!” Teriakan dari Dundee dan Bundini.
Selama persiapan Ali berlatih untuk menjauh dari tali ring. Ali berlatih bagaimana cara melepas diri dari kurungan di tali, Ali dilatih utnuk menghindar dari tali dan sudut. Ali dilatih untuk menari mengelilingi ring. Tetapi sebelum ronde berakhir Ali sudah tahu bahwa dia harus mengubah taktik dan rencananya. Apa sebab ?
Ali melihat bahwa Foreman telah menemukan kunci rahasia memotong jalan Ali. Bahwa Dick Sadler dan Archie Moore telah mengajarkan taktik itu kepada Foreman. Dan Si Tolol itu ternyata sangat mahir menjalankan taktik itu.
Ali sangat sulit untuk dipukul di ronde-ronde awal,sebab Ali cepat dan masih segar. Tetapi siapapun juga, tidak akan sanggup bertahan sampai ronde limabelas jika harus melangkah 6 tindak sementara lawannya hanya 3 langkah. Ali tahu dia akan cepat letih, dan begitu dia letih, habislah dia. Foreman akan melumatnya seperti menginjak kerupuk.
Waktu istirahat menjelang ronde dua, Dundee mengajari Ali. “Menari, kamu harus menari dan menjauh dari tali. Terus bergerak.”
Dundee dan Bundini melihat bahwa Ali harus bergerak terus, menari dan menjauh dari ring. Tetapi Ali ternyata berpikir sebaliknya. Dalam tiga menit tadi, Ali merasakan betapa hebatnya tenaga Foreman. Dan Ali mengerti sebabnya mengapa Frazier dan Norton terjungkal dihajar habis oleh Foreman. Pukulannya benar-benar dahsyat.
Saat itu, Blood, pembantu Ali, menunjuk dokter Broadus dari kubu Foreman. Dia berdiri dekat ring, ingin mendengar apa yang dikatakan Dundee dan Bundini. Lantas Blood memberi tanda hendak mengusir dokter itu. Namun Ali berseru keras. “Biarkan dia mendengar lalu menceritakan kepada Foreman. Biarkan saja. Tak usah perduli, sebab Foreman hanya mendengar apa kata-kataku di atas ring sana.”
“Ali, kamu harus bergerak, menari dan sengat dia.” Maksud sengat di sini adalah “sting like a bee” menyengat seperti lebah, mengumpamakan jab-jab Ali yang cepat dan tajam.
TENG! Ronde Dua.
Ali bergerak ke tengah ring, menari dan menyengat denan beberapa jabnya. Tetapi Ali mengerti bahwa bahaya untuk dirinya bukan pada saat dia tersudut dan bersandar di ring, melainkan pada 6 langkah dirinya berbanding 3 langkahnya Foreman. Rupanya Sadler dan Archie Moore sudah memperhitungkan taksik ini akan membuat Ali letih di ronde 9 dan saat itulah Foreman akan melumat habis Ali.
Di suatu sudut, Eddie Futch berdiri dan berteriak keras, mendukugn dan membela Foreman. Dia, Eddie Futch adalah manajer yang disebut-sebut orang mahir mematahkan strategi Ali. Dan juga Futch yang melatih Ken Norton dan Joe Frazier yang ketika itu mengalahkan Ali.
Dalam satu artikel, Futch berkomentar pedas. “Foreman akan menyudutkan Ali dan akan menghancurkan Ali di sudut itu. Tak ada sesuatu di dunia yang bisa menghambat Foreman dalam hal menyudutkan Ali di sudut ring. Dan jika itu kejadian maka Ali akan hancur, Foreman itu memiliki pukulan sedahsyat Joe Louis dan Rocky Marciano. Sungguh, aku hanya bisa berdoa untuk keselamatan Ali,”kata Futch waktu itu.
Malam itu, menurut pengakuan Ali, dia melihat Futch. Dan adrenalin dalam tubuh Ali bergolak hebat. “Aku harus membalas kekalahanku dari dua petinju asuhan Eddie Futch
itu, sekarang aku akan mengalahkan dia,” begitu kata Ali.
Dundee dan Bundini berteriak. “Dance Champ, float like a butterfly, sting like a bee!!”
(Menari lah juara, terbang laksana kupu-kupu dan menyengat macam lebah.)
Penonton Zaire berteriak. “Ali Bomaye! Ali Bomaye!”
(bersambung)
No comments:
Post a Comment